Doa Memohon Keberkahan Rumah Tangga

Doa Memohon Keberkahan Rumah Tangga

DOA MEMOHON KEBAHAGIAAN DAN KEBERKAHAN RUMAH TANGGA

Setiap pasangan suami istri pasti menginginkan keluarga dan rumah tangga yang dijalaninya selalu dalam kebahagiaan, ketenteraman, selalu rukun dan tidak terpisahkan. Banyak pelajaran penting yang diberikan oleh para ahli dalam mengusahakan terciptanya keluarga idaman yang demikian. 

Namun demikian, bagi seorang Muslim usaha dan cara-cara lahiriah tentunya belum cukup untuk mewujudkan cita-cita itu. Sebagaimana diketahui bahwa kebahagiaan, kedamaian, ketenteraman dan hidup saling rukun merupakan urusan hati. Dan kita ketahui bahwa hati setiap manusia ada di dalam genggaman Allah. Ia dapat dengan mudah dibolak-balikkan oleh-Nya.

Karenanya untuk mencapai semua itu mesti ada campur tangan Allah. Secara lahir usaha-usaha tertentu perlu dilakukan demi terciptanya keluarga yang penuh dengan kebahagiaan. Secara batiniah doa-doa perlu dipanjatkan kepada Allah untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia penuh dengan keberkahan.

Dalam sebuah riwayat ada satu doa yang diajarkan kepada kita untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia penuh dengan keberkahan. Doa tersebut sebagai berikut:

 اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْ أَهْلِيْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ وَارْزُقْنِيْ مِنْهُمْ وَارْزُقْهُمْ مِنِّي. اَللّٰهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ

Allâhumma bârik lî fî ahlî wa bârik lahum fiyya warzuqnî minhum warzuqhum minnî. Allâhummajma’ bainanâ mâ jama’ta ilâ khairin wa farriq bainanâ idzâ farraqta ilâ khairin Artinya: 

“Ya Allah, berkahilah aku di dalam keluargaku dan berkahilah mereka di dalam diriku. Berilah aku rezeki dari mereka dan berilah mereka rezeki dariku. Ya Allah, kumpulkan kami menuju kebaikan dan pisahkan kami bila Engkau pisahkan menuju kebaikan.”

Dalam satu riwayat dituturkan bahwa doa tersebut disampaikan oleh sahabat Abadullah bin Mas’ud kepada seorang laki-laki yang datang kepada beliau. Laki-laki itu menceritakan kalau dirinya baru saja menikah dengan seorang gadis, namun ia sangat khawatir kalau-kalau terjadi kebencian di antara keduanya hingga terjadi perpecahan. 

Mendengar cerita itu Abdullah bin Mas’ud lalu menyarankannya agar ketika ia mendatangi istrinya maka lakukanlah shalat dua rakaat lalu membaca doa tersebut. Dengan sering memanjatkan doa tersebut maka diharapkan pasangan suami istri akan saling rukun, saling mengisi dan menyempurnakan kekurangan dan saling membahagiakan satu sama lain. Dengan begitu maka in syaa allah akan tercipta keluarga bahagia yang penuh dengan keberkahan. Wallâhu a’lam.

(Kitab Fii Nidzhomil Usrah)

Semoga semua pembaca dijadikan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah….

Sumber FB Ustadz : Alhabib Quraisy Baharun

16 Desember 2021  · 

Doa Awal Bulan Shafar Agar Dijauhkan Segala Bencana

DOA AWAL BULAN SHAFAR AGAR DIJAUHKAN SEGALA BENCANA 

Dalam kitab Mukhzanul Arbaah, karya Habib Ali bin Thohir bin Ali al ‘Aiydarus, hal 16 disebutkan:

Barang siapa yang berkeinginan selamat dan terjaga dari semua bencana selama setahun penuh, maka baginya dianjurkan untuk berdoa pada awal bulan Shafar dan Rabu terakhir bulan Shofar: 

بسم الله الرحمن الرحيم وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ وَأَعُوْذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْسِكَ   وَأَسْأَلُكَ أَنْ تُجِيْرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِيْ وَأَهْلِيْ وَأَحْبَابِيْ وَمَا تُحِيْطُ بِهِ شَفَقَةُ قَلْبِيْ مِنْ شَرِّ هَذِهِ السَّنَةِ وَقِّنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فِيْهَا وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ صَفَرَ يَاكَرِيْمَ النَّظَرِ وَاخْتِمْ لِيْ فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَاَمَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِيْ وَلِأَهْلِيْ وَمَا تَحُوْطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِيْ وَجَمِيْعِ الْـمُسْلِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ 

Catatan: 

> Teks kitab lihat di kolom komentar.

> Juga tertera dalam kitab Kanzun Najah was surur, lihat gambar.

> Kamis tgl 9 Sep, sudah masuk tanggal 1 bulan shafar, lihat di kolom komentar keputusan lembaga falakiyah PBNU.

Doa Awal Bulan Shafar Agar Dijauhkan Segala Bencana


Doa Awal Bulan Shafar Agar Dijauhkan Segala Bencana


Doa Awal Bulan Shafar Agar Dijauhkan Segala Bencana

Sumber FB Ustadz : Gus Dewa Menjawab

8 September 2021

Baca Doa Penolak Bala Setiap Selasa

Baca Do'a Penolak Bala' Setiap Selasa

Pesan Salafuna Shaleh Di Hari Selasa. 

Baca Do'a Penolak Bala' Setiap Selasa

Jangan Lupa engkau Membaca Do'a yang dibaca pada Setiap Pagi atau Sore Hari Selasa, yaitu Do'a yang apabila dibaca, Allaah Subhaanahu Wa Ta'aalaa akan Menjaganya dari Berbagai Bencana dan Bala' yang Datang pada Hari itu hingga Hari Selasa Pekan Depannya.

Do'a ini biasanya dibaca oleh Para Habaib ketika Membaca Qasidah Hadrah Basaudan Setiap Malam Selasa maupun di Hari Selasa. 

Do'a tersebut Berbunyi :

اللهم يا كافي البلاء اكفنا البلاء قبل نزوله من السماء. (يا الله) تكررها سبعا. 

"Allaahumma Yaa Kaafiyal Bala' Ikfinal Bala' Qabla Nuzuulihi Minas Sama'. (Ya Allaah 7X)." 

Diulang-Ulang 3X.

"Ya Allaah, wahai Dzat Yang Maha Kuasa untuk Menyelamatkan Hamba-Nya dari segala Bala' Bencana, Selamatkanlah kami dari Bala' Bencana yang akan Menimpa kami Sebelum Bala' Bencana itu Turun dari Langit, Ya Allaah (7X)."

اللهم يا عالم بما ينزل اكفنا الشر ما ينزل قبل ان ينزل حتى لا ينزل. (ثلاث مرات).

"Allaahumma Yaa 'Aalima Bimaa Yanzil, Ikfinaa Syarra Maa Yanzil Qabla An Yanzil Hatta Laa Yanzil." (3X)

"Ya Allaah, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui segala apa yang akan Turun, Selamatkanlah kami dari Kejahatan yang akan Turun, sehingga Tidak Turun." (3X)

اللهم يا عالم بما يكون اكفنا الشر ما يكون قبل ان يكون حتى لا يكون. . (ثلاث مرات).

"Allaahumma Yaa 'Aalima Bimaa Yakun, Ikfinaa Syarra Maa Yakuun Qabla An Yakuun Hatta Laa Yakuun." (3X)

"Ya Allaah, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui segala apa yang akan Terjadi, Selamatkanlah kami dari Kejahatan yang akan Terjadi, sehingga Tidak Terjadi." (3X)

آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Mengapa Do'a Tolak Bala ini dibaca Setiap Pagi atau Sore Hari Selasa? Karena Hari Selasa adalah Hari di mana Allaah Subhaanahu Wa Ta'aalaa Menurunkan Bala' Bencana, di samping itu banyak pula Para Nabi Meninggal Terbunuh pada Hari itu, oleh karena itu Para Salafuna Shaleh Menganjurkan kepada kita untuk Membaca Do'a-Do'a tersebut di atas.

Semoga Allaah Subhaanahu Wa Ta'aalaa selalu Melindungi dan Menjaga kita.

آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب

Sumber FB Ustadz : Aditya Raharjo

10 Agustus 2021 

Doa Terhindar Dari Penyakit Ain

Doa Terhindar Dari Penyakit Ain

DOA TERHINDAR DARI PENYAKIT AIN YANG DIAJARKAN MALAIKAT JIBRIL KEPADA RASULULLAH

Anda pernah mendengar, tiba-tiba seseorang sakit mendadak, anak yang tadinya sehat drastis lemah dan suka menangis malam, atau lainnya. Setelah dicek, ternyata sulit mendiagnosanya. Barangkali dia terkena Al 'Ayn.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Malaikat Jibril pernah mengajari Rasulullah Saw doa untuk penyakit ain ketika Sayidina Hasan dan Husain terkena penyakit ain. Doa agar terhindar dari penyakit ain yang dimaksud adalah sebagai berikut;

اللَّهُمَّ ذَا السُّلْطَانِ الْعَظِيمِ ذَا الْمَنِّ الْقَدِيْمِ ذَا الوجهِ الْكَرِيْمِ وَلِيَّ الْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ عَافِنَا مِنْ أَنْفُسِ الْجِنِّ وَأَعْيُنِ الإِنْسِ

Allohumma dzas sulthoonil ‘adziim, dzal mannil qodiim, dzal wajhil kariim, waliyyil kalimaatit tammah wad da’awaatil mustajaabaati ‘aafinaa min anfusil jinni wa a’yunil insi.

Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan yang agung, Dzat Yang memiliki anugerah yang terdahulu, Dzat Yang memiliki wajah (jalan) yang mulia, menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab, sembuhkanlah kami dari kejahatan jin dan pandangan mata manusia yang merusak.

Riwayat yang dimaksud disebutkan oleh Imam Ibnu Asakir dalam kitab Tarikh Dimasyq, dari Sayidina Ali berikut;

أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلامُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَافَقَهُ مُغْتَمًّا ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ مَا هَذَا الْغَمُّ الَّذِي أَرَاهُ فِي وَجْهِكَ ؟ قَالَ : الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ أَصَابَتْهُمَا عَيْنٌ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ صَدِّقْ بِالْعَيْنِ ، فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ ، ثُمَّ قَالَ : أَفَلا عَوَّذْتَهُمَا بِهَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ ؟ ، قَالَ : وَمَا هُنَّ يَا جِبْرِيلُ ؟ قَالَ : قُلِ اللَّهُمَّ ذَا السُّلْطَانِ الْعَظِيمِ ، ذَا الْمَنِّ الْقَدِيمِ ، ذَا الْوَجْهِ الْكَرِيمِ ، ولي َالْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ ، وَالدَّعَوَاتِ الْمُسَتَجَابَاتِ عَافِ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ مِنْ أَنْفُسِ الْجِنِّ وَأَعْيُنِ الإِنْسِ ، فَقَالَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَا يَلْعَبَانِ بَيْنَ يَدَيْهِ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَصْحَابِهِ : عَوِّذُوا نِسَاءَكُمْ وَأَوْلادَكُمْ بِهَذَا التَّعَوُّذِ ِ

Sesungguhnya Malaikat Jibril datang pada Nabi Saw yang sedang tampak sedih. Jibril bertanya; Wahai Muhammad, kenapa wajahmu tampak sedih? Nabi Saw menjawab; Hasan dan Husain sedang sakit ain. Jibril berkata; Percayalah dengan penyakit ain karena penyakit ain adalah nyata. Apakah kamu tidak mendoakan keduanya dengan kalimat-kalimat itu? Nabi Saw bertanya; Kalimat apa, wahai Jibril?. Jibril menjawab; Ucapakan ‘Allohumma dzas sulthoonil ‘adziim, dzal mannil qodiim, dzal wajhil kariim, waliyyil kalimaatit tammah wad da’awaatil mustajaabaati ‘aafil hasana wal husaina min anfusil jinni wa a’yunil insi.

Kemudian Nabi Saw mengucapkan doa tersebut, maka Hasan dan Husain langsung dapat berdiri dan bermain di sekitar Nabi Saw. Nabi Saw bersabda; mintalah perlindungan untuk dirimu, istrimu dan anak-anakmu dengan doa ini.

Sumber FB Ustadz : Alhabib Quraisy Baharun

13 Juni 2021  · 

Jangan Sampai Menyakiti Orang Lemah

Doa Pihak Yang Terdzalimi - Kajian Islam Tarakan

*✨DOA PIHAK YANG TERDZALIMI*

_Dengan kedzaliman, mungkin saja seseorang bisa meraih apa yang dia inginkan._

_Namun bisa jadi hanya dengan doa satu orang yang terdzalimi, lenyaplah segala apa yang dia miliki._

*وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ*

_"Takutlah kalian doa orang yang terdzalimi, karena tidak ada penghalang antara ia dengan Allah."_(Muttafaq 'Alaih)

©️AST

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

 ⤵️https://t.me/subulana

🌐 www.konsultasislam.com

📱facebook.com/AhmadSyahrinThoriq 

Sumber WAG : SUBULANA I

11 Juni 2021 

Doa Pagi

Doa Pagi

KEBERKAHAN DI WAKTU PAGI

Pagi adalah permulawan hari. Islam memberikan perhatian khusus pada waktu pagi hari ini. Doa merupakan awal yang baik untuk membuka hari di waktu pagi. 

Rasulullah bahkan memanjatkan doa khusus bagi umatnya terkait pagi hari:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Rasulullah Saw juga mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa seusai sholat Subuh atau waktu pagi hari sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah).

Abu Hurairah RA juga meriwayatkan sejumlah doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yang dibaca ketika pagi hari sebagaimana dikutip oleh Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, halaman 63.

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

Allāhumma bika ashbahnā, wa bika amsainā, wa bika nahyā, wa bika namūtu, wa ilaikan nusyūru.

Artinya, “Ya Allah, dengan-Mu aku berpagi hari, dengan-Mu aku bersore hari, dengan-Mu kami hidup, dengan-Mu kami mati. Hanya kepada-Mu (kami) kembali,” (HR Abu Dawud, At-Turmudzi, Ibnu Majah, dan lainnya).

Selain doa singkat itu, Imam An-Nawawi juga mengutip doa pagi Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Mas‘ud dalam Sahih Muslim berikut ini:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الملْكُ للهِ، وَالحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الملْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكَسْلِ وَسُوْءِ الكِبَرِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي القَبْرِ

Ashbahnā wa ashbahal mulku lillāhi wal hamdu lillāhi, lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alā kulli syai‘in qadīr. Rabbi, as’aluka khaira mā fī hādzihil lailata wa khaira mā ba‘dahā, wa a‘ūdzu bika min syarri mā fī hādzihil lailata wa khaira mā ba‘dahā. Rabbi, a‘ūdzu bika minal kasli wa sū’il kibari. A‘ūdzu bika min ‘adzābin fin nāri wa ‘adzābin dil qabri.

Artinya, “Kami dan kuasa Allah berpagi hari. Segala puji bagi Allah. Tiada tuhan selain Allah yang maha esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kuasa dan puji. Dia kuasa atas segala sesuatu. Tuhanku, aku memohon kepada-Mu kebaikan malam ini dan malam sesudahnya. Aku memohon perlindungan-Mu kejahatan malam ini dan malam sesudahnya. Tuhanku, aku memohon perlindungan-Mu dari kemalasan dan kedaifan masa tua. Aku memohon perlindungan-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 64).

Salafus Sholeh rahimahullah berkata, “Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya.”

Rasulullah, tidak menjumpai pagi melainkan bergegas dalam beraktivitas. Seperti yang Allah SWT firmankan:

وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang.” (QS. Ali Imron [3]: 121).

Semoga kita semua mendapatkan keberkahan diwaktu pagi....

Sumber FB Ustadz : Alhabib Quraisy Baharun

8 Juni 2021  · 

Jaga Amanah

Jaga Amanah - Qoute Kajian Islam

JAGA AMANAH

Jagalah selalu kepercayaan seseorang yang mempercayaimu. Karena selama engkau masih dipercaya, hakikatnya dirimu sedang menggenggam harta yang paling berharga.

Sebagian orang bijak menyamakan kepercayaan itu seperti kesempatan, tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.

Dan waspadalah kepada orang yang pernah menelantarkan kepercayaanmu. Karena keledai yang dungu sekalipun tidak akan mau terjerembab ke lubang yang sama berkali-kali.

☘️🌸☘️🌸☘️🌸☘️

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَه

“Tidak ada iman bagi yang tidak ada sifat amanat padanya, dan tidak ada agama bagi yang tidak menepati janjinya." (HR. Imam Ahmad)

©️AST

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

 ⤵️https://t.me/subulana

🌐 www.konsultasislam.com

📱facebook.com/AhmadSyahrinThoriq

Sumber WAG : SUBULANA I

27 Mei 2021·  

Sama-Sama Sunnah

Sama-Sama Sunnah

SAMA-SAMA 'SUNNAH'

@ajir_ubaidillah 

Gamis memang istimewa, hingga NABI begitu menyukainya. Sayyidah Ummi Salamah Radhiallohu `anha mengatakan, 

كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَمِيصُ 

“Pakaian yang paling disukai oleh Nabi Shallallohu `alaihi wa sallam adalah Gamis”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi)

Meski demikian Islam itu agama yang mudah, pemeluk nya tidak diwajibkan untuk mengenakan pakaian jenis atau model tertentu. Yang terpenting menutup aurat dan sopan itu poin nya.

So yang mau pakai gamis yuk niat kan yang baik untuk mengikuti sunnah Nabi, tentu dengan diikuti perbuatan dan perkataan yang baik pula agar sunnah nya semakin sempurna. 

Yang masih nyaman pakai sarung, celana dan sebagainya pun tak mengapa, asal tetap menutup aurat dan sopan, itu sama-sama 'sunnah'.

📸Kenangan saat Harmoni Ramadhan 2 Tahun lalu (pebelum pandemi)

#sunnah #gamis #baju

Sumber FB Ustadz : Ajir Ubaidillah

21 Mei 2021 

Doa Berlindung Dari Kejahatan Orang Dekat

Doa Berlindung Dari Kejahatan Orang Dekat - Kajian Islam Tarakan

DOA BERLINDUNG DARI KEJAHATAN ORANG DEKAT

السُّوْءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِيْ قَبْلَ المَشِيْبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُوْنُ عَلَيَّ رَبًّا، وَمِنْ مَالٍ يَكُوْنُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيْلٍ مَاكِرٍ عَيْنُهُ تَرَانِيْ، وَقَلْبُهُ يَرْعَانِيْ، إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dari pasangan yang membuatku beruban sebelum waktunya, dari anak yang menguasaiku, dan dari harta yang menjadi siksaan atasku.

Juga (lindungi aku) dari orang yang dekat denganku tapi pembuat makar. Dia yang matanya nampak perhatian kepadaku, tapi sebenarnya sedang mengintaiku.

Jika dia melihat kebaikan pada diriku ia berusaha menguburnya, tapi begitu  ia melihat keburukanku ia akan menyebarkannya." (HR. habrani)

🌱🪴🌱🪴🌱🪴🌱

Sebagian hukama mengatakan : "Seburuk-buruk musuh adalah yang pernah menjadi orang dekatmu. Karena ia bisa menyerangmu dari titik terlemah dirimu, atau dari arah yang tidak diketahui oleh musuhmu yang lain."

•┈┈•••○○❁🌻ⒶⓈⓉ🌻❁○○•••┈┈•

💳 Dukung dakwah kami, salurkan infaq ke BSI 0847077213 an Ahmad Syahrin T QQ Subulana, konfirmasi donasi : 081350696763.

Sumber WAG : SUBULANA I

21 Mei 2021

Tuntutan Sunnah dan Adab Berhari Raya

Tuntutan Sunnah dan Adab Berhari Raya - Kajian Islam Tarakan

*⭐TUNTUNAN SUNNAH DAN ADAB BERHARI RAYA*

1️⃣.  Memperbanyak Takbir, Tahmid dan Tahlil.

2️⃣.  Mandi sebelum menunaikan shalat Id.

3️⃣. Menggunakan pakaian terbaik, memakai wewangian dan berhias.

4️⃣. Menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan kembali dari shalat Id.

5️⃣. Disunnahkan makan terlebih dahulu meskipun sedikit sebelum shalat Id Fitri.

6️⃣. Menunaikan shalat Id dan mengajak semua ahli keluarga turut serta.

7️⃣. Mendengarkan khutbah Id sampai selesai.

8️⃣. Saling berziarah, bertahniah (mengucapkan selamat), saling mendoakan.

9️⃣. Membuat perayaan yang dibolehkan, seperti menghidangkan makanan.

🔟. Menampakkan kegembiraan seperti melakukan permainan yang mubah dan memberi hadiah.

*#Selamat Hari raya Idul Fithi 1442 H. Taqaballah minna wa minkum.*

©️AST

Sumber WAG : SUBULANA I

13 Mei 2021 

Hukum Ziarah Kubur Saat Hari Raya

Hukum Ziarah Kubur Saat Hari Raya

Hukum Ziarah Kubur Saat Hari Raya

Sudah menjadi tradisi dimana ketika hari raya kita melaksanakan ziarah kubur ke makam orang-orang tersayang yang telah mendahului kita. Lalu, bagaimanakah hukumnya? mari simak infografis berikut.

#nu #nucreativemedia #nucm 

Sumber FB : Nahdlatul Ulama Creative Media

Jangan Remehkan Amalan Sunnah

Jangan Remehkan Amalan Sunnah - Kajian Islam Tarakan

JANGAN REMEHKAN AMALAN SUNNAH

Menjaga sunnah-sunnah puasa.

Puasa adalah termasuk ibadah yang sangat mulia. Pahala orang yang berpuasa mengharap pahala tidak diketahui melainkan Allah. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Allah Azza Wajalla berfirman:

كل عمل ابن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به (رواه البخاري، رقم 1904، ومسلم، رقم 1151)

“Semua amalan Bani Adam baginya kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan saya yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari, 1904 dan Muslim, 1151)

Puasa Ramadan termasuk salah satu pilar agama, bagi orang Islam hendaknya menjaga puasa dan berhati-hati. Baik itu puasa wajib maupun sunah. Agar Allah membalas dengan balasan yang sempurna.

Puasa mempunyai banyak sunah, kita sebutkan diantaranya:

Pertama:

Dianjurkan kalau ada seseorang yang menghardik atau menghinanya, maka keburukannya dibalas dengan cara yang baik seraya mengatakan ‘Saya sedang berpuasa’

Kedua: Dianjurkan bagi orang berpuasa untuk melakukan sahur, karena dalam sahur ada keberkahan.

Ketiga: Dianjurkan mensegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur

Keempat: Dianjurkan berbuka dengan ruthab (kurma setengah masak), kalau tidak mendapatkan, maka dengan kurma (masak), kalau tidak mendapatkan, maka dengan air

Kelima: Dianjurkan bagi orang yang berpuasa berdoa:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

“Telah hilang dahaga, dan basah tengorokan serta tetap pahalanya in syaa Allah.”

Keenam:

Dianjurkan bagi orang yang berpuasa memperbanyak berdoa. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : الْإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ (رواه أحمد، رقم 8043)

“Tiga doa yang tidak ditolak, imam yang adil. Orang berpuasa sampai berbuka, dan doanya orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad, 8043)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dianjurkan bagi orang yang berpuasa agar berdoa saat berpuasa memohon kebaikan dunia akhirat untuk dirinya dan  orang yang dicintai dari kalangan umat Islam.” 

Ketujuh: Kalau puasa Ramadan, maka dianjurkan:

-Duduk di masjid untuk membaca Qur’an dan zikir kepada Allah

- Beri’tikaf di sepuluh akhir

- Shalat taraweh

- Memperbanyak shadaqah dan melakukan kebaikan

- Mempelajari Al-Qur’an

Diriwayatkan oleh Bukhari, 6 dan Muslim, 2308 dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata: 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

“Biasanya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam ada orang yang paling dermawan. Dan saat beliau paling dermawan adalah di bulan Ramadan, ketika bertemu dengan Jibril. Dimana beliau bertemu Jibril setiap malam Ramadan dan memperdengarkan Qur’an. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam sangat dermawan melakukan kebaikan melebihi hembusan angin.

-Agar tidak menghilangkan waktu dengan sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak berfaedah –terkadang bisa berdampak pada puasanya- dengan banyak tidur, banyak bergurau dan semisal itu. Juga jangan hanya mengangankan menyantap hidangan dan minuman (saat berbuka). Karena hal itu dapat menghalangi dari melakukan amal sholeh di sela-sela puasa.

Wallahu a'lam.

Sumber FB Ustadz : Alhabib Quraisy Baharun

7 Mei 2021 

Berbagai Jenis Sedekah dan Rinciannya

Berbagai Jenis Sedekah dan Rinciannya

Berbagai Jenis Sedekah dan Rinciannya

By. Ahmad Sarwat, Lc. MA

Pintu sedekah itu ada banyak macam dan jenisnya. Pelajari masing-masing karakternya, biar kita tidak merusak dan mengacak-acak tatanan yang sudah baku.

Qurban itu sedekah juga. Tapi tidak lah disebut Qurban kecuali wujudnya sembelih kambing, sapi atau unta. Sama juga dengan aqiqah. Nanti dagingnya disedekahkan.

Namun beda antara keduanya terletak pada teknik  penyajiannya. Qurban itu daging dibagikan masih mentah. Sedangkan aqiqah dibagikan dagingnya sudah matang. 

Fidyah dan zakatul fithi juga sama, yaitu berbagi makanan pokok suatu negeri. Dimana teknik penyajiannya yang masih mentah. Bedanya dalam takaran. Fidyah itu 1 mud dan Zakat Fithr 4 mud atau disebut satu sha'.

Kalau berbagi makanan siap santap lain lagi judulnya, yaitu ketika kasih makan orang buka puasa. Harus yang matang siap santap, plus lauk pauknya. 

Jangan sekali-kali ngudang buka puasa malah disuguhkan beras mentah belum dimasak. Itu salah sistem namanya. 

So, ada begitu banyak ibadah yang sifatnya berbagai makanan. Namun tiap jenis ibadah ada ketentuan masing-masing. Jangan diacak-acak seenaknya. 

Pelajari syariat Islam dengan lengkap semuanya. Jangan berhenti dan mencukuokan diri hanya di satu cabangnya saja. Pelajari semuanya, biar pemahaman kita tidak sepotong-sepotong.

Sumber FB Ustadz : Ahmad Sarwat

5 Mei 2021 

Sunah Itikaf

Sunah I’tikaf - Kajian Islam Tarakan

Sunah I’tikaf

Disunahkan untuk i’tikaf di sepanjang waktu, dan lebih ditekankan lagi di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan apa yang telah valid dari amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dilanjutkan oleh istri-istri beliau setelah beliau wafat. Jika tidak mampu sepuluh hari, maka sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Bisa sehari, atau beberapa jam, atau beberapa menit saja. Dalam mazhab Syafi’i, ukuran waktu minimal i’tikaf dianggap sah adalah lebih (walau sedikit) dari ukuran waktu minimal thuma’ninah dalam salat. Ukuran minimal thuma’ninah dalam salat adalah pengucapan kalimat Subhanallah (Maha Suci Allah) sekali.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) rahimahullah berkata :

(وَالْأَصَحُّ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ فِي الِاعْتِكَافِ لُبْثُ قَدْرٍ يُسَمَّى عُكُوفًا) ؛ لِأَنَّ مَادَّةَ لَفْظِ الِاعْتِكَافِ تَقْتَضِيهِ بِأَنْ يَزِيدَ عَلَى أَقَلِّ طُمَأْنِينَةِ الصَّلَاةِ 

“Dan yang shahih, sesungguhnya di dalam masalah i’tikaf disyaratkan untuk berdiam seukuran bisa dinamakan i’tikaf. Karena unsur lafaz i’tikaf mengharuskannya untuk lebih dari ukuran minimal thuma’ninah salat.” (Tuhfah Al-Muhtaj fii Syarh Al-Minhaj, juz III, hlm. 457).

Syekh al’allamah Muhammad Nawawi Al-Bantani (w. 1316 H) rahimahullah berkata :

وَهِي سُكُون الْأَعْضَاء بعد حركتها مِنْ هُوِيٍّ من الرُّكُوع وَالسُّجُود وَمن نُهُوْضٍ إِلَى الِاعْتِدَال وَالْجُلُوس بِحَيْثُ يسْتَقرّ كل عُضْو مَحَله بِمِقْدَار التلفط بسبحان الله

“Ia (Thuma’ninah) adalah tenangnya anggota tubuh setelah pergerakannya dari turun rukuk dan sujud, serta bangkit untuk berdiri sempurna dan duduk. Dimana, setiap anggota tubuh tersebut menetap di posisinya dengan ukuran (minimal) membaca kalimat Subhanallah (Maha Suci Allah).” (Nihayah Az-Zain, hlm. 71).

Karena i’tikaf adalah suatu ibadah, maka wajib untuk diniatkan. Jika tidak, maka tidak sah. Hal ini berdasarkan keumuman hadis Nabi : “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. (HR. Bukhari dan Muslim). Niatnya di dalam hati dan dianjurkan untuk dilafazkan dalam rangka membantu untuk merealisasikan dan memantapkan niat di dalam hati. Redaksinya : “Nawaitu sunnatal i’tikafi lillahi Ta'ala"( Aku niat sunah i'tikaf karena Allah). Supaya mudah dan praktis, maka setiap masuk masjid niatkan untuk i’tikaf.

Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish shawab. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

(Abdullah Al-Jirani)

***

Foto : Niat i’tikaf tertulis jelas di tiang masjid Nabawi, KSA. (properti dari Ust.Nur Hasim)

Sumber FB Ustadz : Abdullah Al Jirani

3 Mei 2021

Pagi Beriman dan Sorenya Kafir

Pagi Beriman dan Sorenya Kafir - Kajian Islam Tarakan

PAGI BERIMAN DAN SORENYA KAFIR

Na 'uzubillah

Terdapat sebuah hadits menjelaskan bahwa seseorang bisa beriman pada pagi, namun sorenya menjadi kafir, sebaliknya sore hari beriman, menjadi kafir pada pagi hari. 

Waktu yang berubah sangat cepat dalam jangka waktu tidak sampai sehari. Bisa jadi paginya ia masih beriman adanya Rabb pencipta Alam, sorenya ia sudah kafir/mengingkari mengenai ada Rabb pencipta di dunia. 

Apakah benar bisa demikian?

Jawabnya: bisa saja, terlebih di zaman ini di mana syubhat (kerancuan) sangat cepat menyebar melalui internet dan media sosial. 

Ternyata banyak menyebar tulisan, video dan materi yang bisa menyebabkan orang ragu akan keimanannya dan akhirnya mengingkari (kafir). 

Tulisan tentang orang yang tidak percaya akan adanya Rabb pencipta (atheis) sangat banyak menyebar. 

Demikian juga keyakinan bahwa semua agama itu sama saja yang penting menjalani hidup. 

Bisa saja pagi harinya dia beriman, tetapi sore harinya dia sudah kafir sebagaimana hadits berikut

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” [HR. Muslim]

Maksud dari kafir di sini bukanlah makna kiasan, tetapi makna sesungguhnya yaitu lawan dari iman atau tidak beriman lagi dengan agamanya. 

Imam Al-Qurthubi menjelaskan hal ini, beliau berkata

ولا إحالة ولا بعد في حمل هذا الحديث على ظاهره، لأن المحن والشدائد إذا توالت على القلوب أفسدتها بغلبتها عليها، وبما تؤثر فيها من القسوة و الغفلة التي هي سبب الشقوة

“Bukan tidak mungkin untuk memaknai hadits ini dengan makna dzahirnya (benar-benar kafir), karena ujian dan fitnah apabila datang berturut-turut akan merusakn hati dan mengalahkannya. Akan memberikan pengaruh/dampak berupa kerasnya hati, kelalaian yang merupakan sebab kebinasaan.” [Al-Mufhim 1/326]

Hadits di atas juga memotivasi kita agar bersegera untuk beramal sebelum datang waktu di mana kita tidak mampu beramal lagi seperti sakit parah mendadak atau kematian mendadak yang cukup banyak terjadi di zaman ini. 

Inilah yang ditekankan oleh Salafus sholeh rahimahullah, beliau berkata:

المؤمن يبادر بالأعمال، يحذر قد يبتلى بالموت العاجل، موت الفجأة، قد يبتلى بمرض يفسد عليه قوته، فلا يستطيع العمل، يبتلى بهرم، يبتلى بأشياء أخرى

“Seorang mukmin hendaknya segera beramal dan berhati-hati apabila diuji dengan kematian yang disegerakan atau kematian mendadak, demikian juga diuji dengan penyakit yang melumpuhkan kekuatannya atau diuji dengan ketuaan yang lemah atau diuji dengan hal lainnya.”

Para ulama memperingatkan kita bahwa zaman ini adalah zamannya fitnah dan ujian serta sibuknya manusia dengan urusan duniannya yang melalaikan. 

Dua sumber utama fitnah yaitu syubhat dan syahwat sangat mudah menyambar manusia di era internet dan sosial media saat ini. 

Fitnah tersebut perlahan-lahan akan mengeraskan hati sebagaimana tikar yang dianyam,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا

“Fitnah-fitnah akan mendatangi hati bagaikan anyaman tikar yang tersusun seutas demi seutas”. [HR.Muslim no 144]

Semoga Allah menjaga kita dari berbagai fitnah yang begitu dahsyat di zaman ini.

Sumber FB Ustadz : Alhabib Quraisy Baharun

3 Mei 2021

Mengapa Bukan Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah Yang Diundang?

Mengapa Bukan Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah Yang Diundang?

Mengapa Bukan Ulama' Ahlussunnah Wal Jama'ah Yang Diundang?

Viral berita Ustadz Khalid Basalamah (Salafi) diundang ngisi kajian di Markaz Kepolisian Perairan dan Udara. Dan banyak yang bertanya, mengapa tidak da'i-da'i NU atau Ahlussunnah lainnya? 

Tentu kali ini saya tidak sedang mengkritisi akidah dan pemahaman Khalid Basalamah yang banyak bermasalah. Tapi lebih ingin menyorot mengapa bukan ulama' Ahlussunnah wal Jama'ah baik dari NU atau yang lain yang diundang kesana. Saya akan mencoba menganalisis dari sudut subyektivitas saya [Kalau salah jangan dimarahi 😃]:

1. Di tubuh Ahlussunnah, khususnya NU, mungkin lebih tampak [bagi sebagian anggota polri khususnya] nuansa politiknya daripada nuansa murni dakwahnya atau lebih terlihat kerap berkonflik dan berkonfrontasi dengan ormas atau aliran lain. Sementara kelompok Salafi seperti Khalid Basalamah lebih fokus membangun konten dan polesan-polesan dakwahnya serta tidak terlalu peduli kritik-kritik yang ditujukan kepadanya. 

2. Da'i-da'i Aswaja yang menjauhi konflik politik tidak terlalu banyak yang viral heboh dan bahkan tidak terorganisir dengan baik. Mungkin mereka tenggelam dengan ikhlas dan khumul-nya. 😋

3. Harus diakui, dai-dai Aswaja yang populer di YouTube selain nama beken Gus Baha', UAS, UAH, Gus Miftah, dll (😍) hampir tidak ada. Padahal secara SDM kurang apa kita coba?! Justru video seperti milik Khalid Basalamah lebih banyak berseliweran dan lebih menarik ditonton oleh masyarakat kita, gak Salafi gak Aswaja awam. Ada apa dengan Aswaja? Hoi....!

4. Sebagaimana diatas, da'i-da'i Aswaja kurang terorganisir dengan baik. Pelatihan-pelatihan da'i setahu saya juga hampir tidak ada (atau jangan-jangan aku sing gak diundang ya hahahahaha). Bahkan sependek pengamatan saya, lembaga dakwah milih NU, LDNU pun tidak memiliki program yang mengarah kepada cetak dai-dai mumpuni yang sesuai selera masyarakat yang seneng nonton Tiktok dan Sinetron Ikatan Cinta. 🙄🙄🙄 🙏🙏🙏

5. Mungkin petinggi-petinggi Polri sudah banyak yang ikut kajian Salafi dan petinggi Polri yang Aswaja atau NU gak ada atau kurang peduli. 😭😭😭

Menurut anda bagaimana? Boleh beda pendapat dan pendapatan ya hehehehehe....

Sumber FB Ustadz : Hidayat Nur

1 Mei 2021

Beberapa komentar :

Zeid Ibn Imaduddin : Alhamdulillah.... unek2 n kegusaran alfaqier direspon sm yai,,, smoga membuka mata kita para dai Aswaja utk lebih smangat berdakwah di kalangan pejabat2 pemerintah dan kaum millenials

Abi Yansa : UAS datang suatu daerah di kab di Jateng di tolak olah klompok pemuda yg ngaku Aswaja, sedih, kasihan mereka

Juwansyah : Faktor terbesar mnurut sya itu krn memang sdh viralny ustadz2 mereka di medsos2... dan itu sdh berlngsung sangat lama... alhmdulillh disinu sy bersyukur dngn kemunculan UAS yg sama2 jg viral di medsos yg terang2an mengimbangi pengaruh mereka di masrkt awam... disusul UAH,(meski muhammdiyah tpi pengaruhny cukup mengaimbangi dai2 wahabi... 

Disusul para habaib jg yg viral di medsos sprti habib jindan, habib novel, habib seif dll... dri NU masih sdikit dan kbnykn isiny kurang diminati masyrkt milenial... 

Smg seluruh kelompok2 aswaja bisa bersatu dan tak berpecah belah sprti sekrng utk mengimbangi pengaruh mereka...

Vian Rifqi : Mungkin karena Isi Dakwah mereka, gak ribet sehingga mudah diterima di berbagai kalangan Khususnya Dai Dai mereka yang biasanya isinya lebih tentang ke Kehidupan baik beragama dan bermasyarakat

Sepertinya kan seperti Ust. Yazid Jawas kurang mendapat perhatian baik dari anak muda remaja atau dewasa

Abi Azka Ar Rifa'i : Masyarakat kota cenderung suka yg dikit2 dalil uatadziy...dan peluang itu ditangkap oleh salafi. Beda dg dai azwaja (baca Aswaja) yg cenderung banyak beretorika dan guyon..

Dai2 aswaja yg gaya dakwahnya mirip mereka juga diterima dg baik kok. Intinya menurut kulo...perlu strategi dlm berdakwah dan jgn lupa punya team utk framing..saatnya njenengan bikin team ustadziy...hehe

Ginanjar Nugraha : Abi Azka Ar Rifa'i sepakat ustadz bukan pada materi dakwah tapi lebih kepada teknis dan strategi dakwah disesuaikan secara sosiologis mad'u

Zaenal Irfan : Kan ada ust Anwar Zahid dan Das'ad Latif yi. Banyak juga viewernya di YT

Juwansyah : Zaenal Irfan ustadz anwar zahid dan das'ad latif itu snagt cocok utk kalangan emak2 dan orang2 awam kbnykn yg suka guyon... tpi tdk utk masrkt milenial apalgi orang2 kota yg kritis terpelajar dan orang2 yg bru hijrah... mereka haus akan asupan2 ilmu yg sesuai dngn quran dan hadits.. nah yg bnyk viral itu mlh dri paham sebelah...

Zaenal Irfan : Juwansyah sy pikir cuma sekedar banyak viewer di YT. Ya kalo mau bener2 ambil segmen itu cari yg gak cuma pinter ndalil, tapi yg alumni timteng juga kayak Alm prof Ali mustofa Yaqub, habib DR said Agil Munawar, Dr Ahsin Sakho dll. Butuh tim juga utk optimasi YT nya. Penampilan juga yg ala modernis macam prof Quraish Shihab jgn sarungan kayak Buya Yahya.

Ihsan Adil : Strategi dakwah penting yai,

Uah uas dll menyentuh jamaahnya dengan retorika dakwahnya dan jarang membahas hukum kecuali ditanya

Salafi seperti itu, terlebih lagi kita hidup di era digital, tinggal tengok hp 

Bukan hanya salafi saja yang mengajak kembali ke alquran dan sunnah tapi ormas besar nu dan muhammadiyah juga demikian, tapi disisi salafi lebih transparan, apalagi duitnya banyak hehehhe

Muhammad Al Rivalda : Saya paling se7 nomor 1 ustadz, orang" itu mulai menjauhi Nu gara" manuver politiknya oknum" NU yg membuat orang yg ga sepaham poltiik nya jadi takut mendekat sama ulama" NU

Abduh Raafi : Manajemen dakwah salafi sdh bagus ditunjang team work nya melek IT..kalau ada beda paham diantara sesama salafi dianggap khilafiyyah kalau beda paham diluar salafi dianggap bid'ah 😊

Ahmad Karomi : Menurut saya:

A. Sudah saatnya benar² digodok pelatihan da'i secara intens, bisa dimulai dari pesantren, kemudian dilatih oleh para mubaligh yang profesional.

B. Harus dibagi sesuai segmentasinya, ada da'i ala Tiktok, ada da'i ala artis, ada da'i ala kadarnya.

C. Harus ada yang mengelola dan memanajemen da'i, biar gak serobotan

D. Tim IT dari PC MWC harus kompak seirama mempopulerkan da'i dari daerah masing-masing.

E. Kiai Zainuddin MZ adalah contoh ideal sosok dai sejuta umat yang secara bahasa dan gesture sangat komplit.

F. Mengkader alumni pesantren (yang tertarik untuk menjadi da'i) secara proporsional. Bisa diadakan pelatihan khusus pengenalan ilmu public speaking yang joss.

Hidayat Nur : Ahmad Karomi Nah niki bagian Jenengan yang punya link ke PBNU, PWNU Jatim dan PW² yang lain, Kyai. Hehehehe....

Kalau saya da'i ala kadarnya saja. Hehehehe

Harry Nurdianto : Alhamdulillah, ada Kyai yang mau menulis otokritik begini. Saya pernah menulis begini beberapa tahun lalu, malah dianggap menyerang NU.

Pada intinya menurut saya ada di point 1 dan 4, yang ada di benak awam ketika bicara Aswaja (NU) adalah perang politik identitas, yang anti Wahabi, anti PKS dan anti-anti yang lain. Padahal kebutuhan masyarakat bukan itu, ada yang butuh sih ya yang nyebuzzer.

Fuad Jalaludin : Betul sekali pak ustad di Riau sini juga kayak gitu persis sekali,,ada apa dg Aswaja sekarang????

Abdul Qodir Baihaqi : Nderek rembug, beberapa Da'i NU yang pernah saya ikuti, tema ceramahnya itu-itu aja. 

Nasir Alhamdal : yang jelas otokritik sah sah saja tapi yang jelas...

itu semua kesan saja,tapi yg jelas dari kalangan Wahabi memang ofensif misinya ..dalam menyebarkan virusnya disemua lini...,dan banyak kalangan awam yg semangat beragama ...kalau sdah mendengar ucapan Wahabi ...bahwa .ini yg sesuai Sunnah itu yg nggak sesuai ini yg murni itu yg nggak murni...gampang banget terpaparnya

Arga Abdi Lubis : Kalau saya berpendpat yai, kajian2 salafi terutama dyoutube itu simpel2 dan jelas, mengenai kehidupan sehari2..

Tp kalau aswaja itu kebanyakan (tak semua) isi kajiannya berat2, banyak masyarakat awam ya jelas ninggalin..

Kajian salafi itu cuma berdasar hadist tok

Kalau aswaja, kalau belum nampilin ibaroh arab gundul dri kitab ulama2 klasik yg notabene, orng yg masih baca Al Qur'an tertatih2 ya jd puyeng nheliatnya, bgitu pandangan saya yai sebagai masyarakat awam...

Itu knp bnyak masyrakat awam lebih tertarik kpd kajian salafi dripd aswaja sndiri..

Salikin : Utamakan aqidah ahlussunnah drpd "bendera apapun"....kalo mau

Zulkifli Kuala : 4. Kajian² Kiyai²/ Ust² kita kurang praktis dan kekinian (up to date) kecuali UAS tentu

5. Ada beberapa teman yg menyebutkan bahwa banyak perwira polri yg sdh ikut kajian Salafy

6. Kebanyakan dr underbbow NU sibuk membangun konfrontasi bukan mengedukasi ummat...

Afwan... 🙏🏿🙏🏿

Fathur Rohman :

Solusi : 

1. Rekam dan viralkan lewat medsos semua ustadz aswaja pada saat ngisi pengajian PHBI atau pada saat ngaji di majelis ta'lim (semuanya). 

2. Koordinir panitia perekam video dan sekaligus ambil tema yang menarik

3. Koordinir orang aswaja pada saat berkomentar di dalam video tersebut 

4. Kenalkan dai aswaja ke publik

Kelemahan :

1. Kurang hapal dalil

2. Takut duluan

3. Cari aman dan gak berani ngambil resiko ditanya oleh publik

Gan Tanuwijaya : Metode kyai NU itu menurut saya kesannya bagi awam jarang yang tematis ceramahnya.

Metode ceramah salafi itu  menarik bagi awam karena simple

Misalnya

Tema : muamalah A

Dalilnya - Al-Qur'an

          - as-sunah

Tidak sesuai dengan dalil yang disampaikan bidah.

Bidah sesat, neraka.(titik)

😬 Jama'ah pulang sudah merasa dapet paket komplit.

NU Pantura : Gan Tanuwijaya kalau menurut saya, mengapa ustad2 wahabi video dakwah diyoutube view-nya rata2 ratusan ribu, karena jamaah mereka kebanyakan ngajinya di youtube, nyari ustad wahabi didesa susah .... berbeda dengan jamaah NU atau Aswaja yg laennya, masjid atau musholla tiap desa bahkan tiap RT isinya pengajian ustad/ Kyai2 NU, sangat mudah mencari pengajian Kyai2 NU di desa

Gan Tanuwijaya : NU Pantura ya tidak dipungkiri gerakan dakwah mereka memang segmentasinya ke kampus anak muda, tentunya lebih up-to-date teknologi.

Ibnu Abdullah Al Maidany : Ya gimana mau diundang polri yai, yang populer malah ceramah di gereja.

Hidayat Nur : Ibnu Abdullah Al Maidany 

Lha menurut Jenengan bagaimana? Mungkin bisa dibahas dulu hukum masuk gereja. Terus dibahas akidahnya Ustadz Kholid Basalamah.

Ibnu Abdullah Al Maidany : Wah mana ada ilmu saya yai. Apakah boleh ni ceramah untuk peresmian gereja? Terus bilang kita (penceramah dan kaum nasrani yg mendengarkan) adalah satu karena memanggil Allah dengan sebutan yang berbeda?

Feri Hendriawan : Narasi yg digunakan pemilik akun Lembaga Dakwah PBNU itu telah melakukan kesalahan yang sangat fatal mas ust.Hidayat Nur .

Fokus pada narasi nya:

"Kita adalah satu dari Dia yang kita panggil nama-Nya dengan sebutan yang berbeda".

Hal seperti ini,yg membuat Aswaja Awam menjauh dan tidak tertarik ikut kajian da'i Aswaja khususnya dari NU.

Charim Beands Zenank : aswaja sdh terlalu sering diundang. jadi kesannya biasa saja.

mungkin kali ini pihak polri ingin melihat lgsg tema ceramahnya khalid.

NU Pantura : Charim Beands Zenank padahal kholid pernah mengharamkan hormat merah putih😂

Andri Ansyah : Sedih nya yi ketika yg tampil di medsos sepeeri UAS UAH dan buya yahya bnyk yg khritik dari kalangn NU pdhl sama" aswaja mungkin krna ada perbdaan sangkut paut dgn politik 😀

Ahdiyat Darsonn : Menurut saya Faktor pembawaan dan cara menjelaskan juga berpengaruh stadz...

Ada beberapa ustadz kita yang masih condong kanan-kiri, atau seperti menyekat-nyekat ,  bahkan sperti anti terhadap sesama muslim yang beda pemahaman, sehingga menimbulkan pemikiran negatif di masyarakat awam, misalnya masalah toleransi yang kadang seperti kebablasan...

Sedangkan banyak di masyarakt awam kita itu masih banyak yang memang murni ingin ngaji/mencari ilmu agama bahkan mencari jati diri... #cmiiw

Fakhry Mar-i Fathaniy : Nomor 5 lebih dominan yai, banyak akun POLRI CINTA SUNNAH dkk yg marak muncul

Dakwah mereka ini ilmiah berkesesuaian dgn standar ilmiah modern (melampirkan dalil), jadi banyak yg kecantol

D pajak-pun jg begitu

Tp kalau aswaja krn selain dalil, standar ilmiah kita adalah pemahaman yg berkesesuaian dgn ulama dr zaman k zaman, dan mengutip ulama ini dikerdilkan oleh mereka sehingga kesan "ilmiah asli" ini mjd tidak layak sbg standar ilmiah modern yai 😅

Wallahu a'lam

Feri Hendriawan : Sekitar awal tahun 2017, sebelum saya tahu tentang penyimpangan akidah Tajsim nya Khalid Basalamah,(Saya awalnya mengira,dia da'i Muhammadiyah).

Akun Instagram saya juga pernah beberapa kali memposting videonya.

Yang berkesan dari sosoknya (termasuk keluarganya) adalah attitude (baik dirinya dan keluarganya yang sangat tampak Istiqomah menjalankan kehidupan secara Islami).

Yang berkesan dari dakwahnya adalah integritas nya sebagai da'i yang fokus mensyiarkan Islam tanpa terkait politik dan kepentingan penguasa.(Berbeda dengan NU).

Suaranya yang khas dan tegas juga mempengaruhi penikmat kajian videonya.

Terakhir sikapnya yang tegas menolak Riba perbankan konvensional dan mengharamkan rokok,itu menjadi nilai plus yang tidak dimiliki da'i Aswaja (khususnya NU yang membolehkan bunga perbankan konvensional dan merokok).

*Begitu mendapati video nya yang membahas tentang istiwa', tangan dan kaki-Nya.Seketika itu juga saya paham dimana letak kesesatan nya.😀🙏

kajian ulama

Penentang Dakwah Sunnah dan Salaf?

Penentang Dakwah Sunnah dan Salaf?

PENENTANG DAKWAH SUNNAH DAN SALAF?

Abdul Wahid Alfaizin 

Sering sekali kita jumpai ketika ada yang mengkritik atau meluruskan sebuah pemahaman salah seorang ustadz atau kelompok, maka pengkritik tersebut langsung dilabeli dengan "Penentang Sunnah" atau "Penentang Dakwah Sunnah" atau terkadang "Penentang Dakwah Salaf". Seakan-akan ketika ada yang tidak sama dengan pemahamannya, maka secara otomatis bertentangan dengan Al-Qur'an atau Sunnah Rasulullah. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan sikap para salaf dalam menghadapi perbedaan.

Salah satu sikap salaf yang perlu dijadikan contoh adalah sikap Umar bin Khattab berikut ini seperti yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi

كَتَبَ كاتِبٌ لِعُمَرَ بنِ الخطابِ: هذا ما أرَى اللهُ أميرَ المُؤمِنينَ عُمَرَ. فانتَهَرَه عُمَرُ وقالَ: لا، بَلِ اكتُبْ: هذا ما رأى عُمَرُ، فإِن كان صَوابًا فمِنَ اللهِ، وإِن كان خَطأً فمِن عُمَرَ

[أبو بكر البيهقي، السنن الكبرى للبيهقي ت التركي، ٣٤٠/٢٠]

“Ada seorang yang menulis keputusan untuk ‘Umar bin Khaththab berisi “ini adalah kebenaran yang telah diperlihatkan Allah pada 

khalifah Umar”. Maka Umar’ melarangnya dan berkata “Tidak begitu! akan tetapi tulislah ‘ini adalah pendapat Umar, kalau ini benar maka 

itu dari (anugerah) Allah dan kalau salah maka itu dari Umar sendiri’.” 

Umar adalah salah seorang Khulafaur Rosyidun yang Rasulullah memerintahkan kita berpegang pada sunnahnya. Itu pun ketika beliau menyampaikan pendapat tidak berani menyatakan itu adalah pendapat yang benar yang diperlihatkan oleh Allah pada dirinya. Karena itu, dalam sejarah dapat kita lihat ada banyak keputusan 'Umar yang kemudian dibatalkan oleh beliau setelah diprotes oleh para sahabat lainnya. 

Dalam menghadapi perbedaan pendapat seharusnya kita harus meniru sikap Imam Al-Nasafi berikut ini

أَنَّ مَذْهَبَنَا صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ وَمَذْهَبَ مُخَالِفِنَا خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ 

[ابن حجر الهيتمي، الفتاوى الفقهية الكبرى، ٣١٣/٤]

"Madzhab kita benar tapi bisa jadi salah, pendapat yang berbeda dengan kita salah tapi 

bisa jadi benar”.

Dengan demikian kita bisa menghargai perbedaan pendapat orang lain dan bisa tetap merajut ukhuwwah meski berbeda pendapat. Sehingga kita bisa terhindar dari perpecahan terlebih pertikaian.

Sumber FB Ustadz : Abdul Wahid Alfaizin

28 April 2021 

Bid'ahnya Wahabi itu Dua

Bid'ahnya Wahabi itu Dua - Qoutes Kajian Islam Tarakan

Bid'ahnya Wahabi itu dua:

1. Akidah Taymiyun seperti Mujassimah Karramiyah

2. Suka membuat syariat baru berupa pelarangan sesuatu yang sebenarnya tidak dilarang oleh syariat.

Sumber FB Ustadz : Abdul Wahab Ahmad

Qoutes · 15 April 2021 · 

Beberapa Sunnah Ketika Makan Sahur

Beberapa Sunnah Ketika Makan Sahur

Dalam melaksanakan ibadah puasa, disyariatkan untuk makan sahur. Berikut ini beberapa sunnah (tuntunan) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terkait makan sahur.

Makan sahur hukumnya sunnah muakkadah

Makan sahur tidaklah wajib dan bukan syarat sah puasa. Namun hendaknya orang yang berpuasa bersemangat untuk melakukannya karena para ulama mengatakan bahwa hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah karena dalam makanan sahur terdapat keberkahan” (HR. Bukhari no. 1922 dan Muslim no. 1095).

Ibnul Munzir rahimahullah mengatakan,

وأجمَعُوا على أنَّ السُّحورَ مندوبٌ إليه

“Ulama ijma’ (sepakat) bahwa sahur hukumnya dianjurkan” (Al-Ijma’, hal. 49).

Dianggap sudah melakukan aktivitas makan sahur jika makan atau minum di waktu sahur, walaupun hanya sedikit. Dan di dalam makanan sahur itu terdapat keberkahan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السُّحورُ كلُّه بركةٌ فلا تَدَعُوه ، و لَو أن يَجرَعَ أحدُكُم جَرعةً مِن ماءٍ ، فإنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ وملائكتَه يُصلُّونَ على المتسحِّرينَ

“Makanan sahur semuanya berkah, maka jangan tinggalkan dia. Walaupun kalian hanya meneguk seteguk air. Karena Allah ‘azza wa jalla dan para malaikatnya bershalawat kepada orang-orang yang sahur” (HR. Ahmad no. 11101).

Disunnahkan mengakhirkan makan sahur mendekati waktu subuh yang ditandai akhirnya dengan waktu imsak.

Dianjurkan untuk menunda sahur hingga mendekati waktu terbitnya fajar, selama tidak dikhawatirkan datangnya waktu fajar ketika masih makan sahur. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma bertanya kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ’anhu,

كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Berapa biasanya jarak sahur Rasulullah dengan azan (subuh)? Zaid menjawab: sekitar 50 ayat” (HR. Bukhari no. 1921 dan Muslim no. 1097).

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,

في قوله: قَدْرُ خَمسينَ آيةً؛ أي: متوسِّطةٌ، لا طويلةٌ ولا قصيرةٌ ولا سريعةٌ ولا بطيئةٌ

“Perkataan Zaid [sekitar 50 ayat] maksudnya dengan kecepatan bacaan yang pertengahan. Tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat” (Fathul Bari, 1: 367).

Dari sini kita ketahui kekeliruan sebagian yang bersengaja makan sahur larut malam sekitar pukul 1 atau pukul 2 malam ketika waktu subuh di daerahnya sekitar pukul 4 pagi.

Disunnahkan makan sahur dengan tamr (kurma kering)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَ سَحورُ المؤمِنِ التَّمرُ

“Sebaik-baik makanan sahur adalah tamr (kurma kering)” (HR. Abu Daud no. 2345,).

Salafus sholeh menyebutkan dalam syarah hadis ini, “Makanan terbaik bagi seorang mukmin ketika sahur adalah kurma, sebagai persiapan dirinya untuk berpuasa. Karena waktu sahur dan kurma, dua-duanya memiliki keberkahan yang membantu seorang yang berpuasa di siang hari”.

Gunakan waktu sahur untuk banyak beristighfar

Waktu sahur adalah salah satu waktu yang terbaik untuk meminta ampunan Allah. Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya,

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُون

“Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdoa memohon ampunan” (QS. Adz Dzariyat: 18).

Gunakan waktu sahur untuk banyak berdoa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنا تَبارَكَ وتَعالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إلى السَّماءِ الدُّنْيا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فيَقولُ: مَن يَدْعُونِي فأسْتَجِيبَ له، مَن يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَن يَسْتَغْفِرُنِي فأغْفِرَ له

“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman, ‘Orang yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Orang yang meminta sesuatu kepada-Ku, akan Kuberikan. Orang yang meminta ampunan dari-Ku, akan Kuampuni‘” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758).

Gunakan waktu sahur untuk banyak membaca Al-Qur’an

Waktu malam secara umum adalah waktu yang baik untuk membaca Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

“Sesungguhnya, bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (QS. Al Muzammil: 6).

Juga sebagaimana pada hadis Zaid bin Tsabit, mengisyaratkan bahwa para sahabat biasa memanfaatkan waktu setelah makan sahur untuk membaca Al-Qur’an.

Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi hidayah dan taufikNya untuk kita semua.

Beberapa Sunnah Ketika Makan Sahur - Kajian Islam Tarakan

Sumber FB Ustadz : Alhabib Quraisy Baharun

29 April 2021 

Doa Agar Dimudahkan Dalam Segala Urusan

Doa Agar Dimudahkan Dalam Segala Urusan

Doa Agar Dimudahkan Dalam Segala Urusan

Petunjuk yang sempurna datangnya hanya dari Alloh, dalam segala urusan apapun.

Salah satu doa terbaik ada dalam Al Qur'an, surat Al Kahfi ayat 10. 

Doa ini dibaca oleh para pemuda yang dulu ditidurkan selama ratusan tahun di Gua Ashabul Kahfi. Mereka dalam keadaan terdesak dan benar-benar hanya meminta pertolongan Alloh, hanya meminta petunjuk Alloh.

إِذْ أَوَى ٱلْفِتْيَةُ إِلَى ٱلْكَهْفِ فَقَالُوا۟ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا  ﴿١٠﴾

"(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, "Ya Rabb, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." (Q.S Al Kahfi 18:10)

Hanya Alloh.. hanya Alloh tempat bersandar kita, untuk memohon petunjuk.

Bagus untuk dipahami dan dihafalkan, minta dengan sungguh-sungguh, Insya Alloh hati lebih lapang dan akan dipermudah segala urusan kita.

#islam #muslim #kajian #dakwah #tauhid #alquran #hijrahislam #temansurga #sunnah  #dakwahsunnah #dakwah #dakwahtauhid #dakwahislam #ceramah #tausiyah #yukhijrah #hijrah #hijrahcinta #pemudahijrah #hijrahku #beranihijrah #hijrahyuk #alquran

Sumber FB Ustdaz : KH. Abdullah Gymnastiar 

28 April 2021  · 

Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah Abad 21

Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah Abad 21

IMAM AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH ABAD 21, ABUYA ASSAYYID MUHAMMAD BIN ALWI ALMALIKI ALHASANI

(Dalam rangka Haul ke - 17, pada tgl 15 Ramadhan 1442 H)

Nama lengkap beliau adalah Prof. Dr. Assayyid Muhammad Bin Assayyid Alwi Bin Assayyid Abbas Bin Assayyid Abdul Aziz Almaliki Alhasani Almakki Alasy`ari Assyadzili. 

Sehari-hari beliau dipanggil Abuya. 

Abuya lahir di Makkah Al Mukarramah, pada tahun 1362 H / 1943 M.

 Ayah beliau bernama Assayyid Alwi Bin Abbas Almaliki, seorang ulama terkemuka di Makkah Al Mukarramah, dan seorang mudarris (pengajar) di Masjidil Haram.

Awal masa pendidikan yang ditempuh oleh Abuya adalah berbentuk halaqah-halaqah ilmiyah yang diasuh oleh sang ayah yang  bertempat di Masjid Alharam.

 Selain belajar kepada ayahnya sendiri, beliau juga belajar kepada beberapa para Ulama, di antara guru beliau adalah Syeikh Hasan Muhammad Almassyath, Asayyid Amin Kutbi, Syeikh Muhammad Nur Saif, Syeikh Sa`id Yamani, dan ulama-ulama lainnya

Abuya juga belajar di Madrasah Alfalah, Madrasah Shaulatiyyah, dan Madrasah Tahfidz Alquran yang berada di kota Makkah. 

Beliau menimba ilmu Hadits kepada beberapa ulama di India dan Pakistan.

 Beliau memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan rantas transmisi (isnad) dari Alhabib Ahmad Almasyhur Alhaddad di Jiddah, Syeikh Hasanain Makhluf dari Mesir, Syeikh Ghumari dari Maroko, dll.

Pada fase selanjutnya, beliau menempuh studi akademis di Universitas Al Azhar, Mesir, dan berhasil meraih gelar Magister dan Doktoral dari Fakultas Ushuluddin.

 Beliau juga pergi ke Maroko untuk belajar kepada ulama-ulama di negeri ujung barat benua Afrika itu.

Pada tahun 1390 H / 1970 M, beliau diberi tugas mengajar di Fakultas Syari`ah di kota Makkah (1390-1399 H).

 Beliau juga termasuk salah seorang staf pengajar program pasca sarjana Universitas King Abdul Aziz, Makkah.

 Ketika sang ayah wafat pada tanggal 25 Safar 1391, Abuya ditunjuk menjadi pengajar di Masjidil Haram menggantikan sang ayah yangtelah mengajar di majelis tersebut selama 50 tahun lamanya. 

Selain halaqah di Masjidil Haram, banyak ceramah agama yang telah beliau sampaikan, baik di radio maupun televisi, juga yang terekam dalam bentuk kaset dan CD. 

Beliau selalu berperan aktif dalam Pekan Budaya (Almawasim Astsaqafiyyah) yang digelar oleh Rabithah Alam Islami.

 Sebagaimana beliau juga aktif dalam seminar-seminar agama yang diselenggarakan di dalam maupun luar Saudi Arabia.

 Dalam momen MTQ tingkat internasional, beliau terpilih sebagai Ketua Dewan Juri pada kisaran tahun 1399, 1400, dan 1401 H. 

Beliau merupakan orang pertama yang mengetuai dewan tahkim MTQ tingkat internasional tersebut.

Abuya juga telah mengunjungi banyak negara Islam.

 Tercatat, beliau berperan aktif membantu di berbagai pesantren dan madrasah di Asia Timur dan Asia Tenggara. 

Bentuk bantuannya, termasuk segi peletakan metodologi (manhaj), pemberian bantuan dana, penataran guru, perekrutan murid pesantren atau madrasah tersebut untuk dididik di Makkah dengan beasiswa penuh dari beliau rahmatullah alaihi.

Dalam dunia tulis menulis dan karya ilmiah, Abuya berhasil menulis puluhan kitab dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, antara lain Aqidah Islam, Ulumul Quran, Musthalah Hadits, Fiqh, dan Sirah Nabawiyyah. 

Hingga akhir hayat, beliau tetap istiqamah mengajar di majelis ta`lim yang dirintis di tempat kediamannya di Syari` Almaliki Distrik Rushaifah Makkah, yang dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai kalangan anak muda hingga orang tua,  selain santri beliau sendiri yang berdomisili di Rushaifah.

 Adapun para santri beliau baik yang berdomisili dikediaman beliau, maupun yang mukim di luar, mayoritas berasal dari luar negeri Saudi Arabiah, dan ada pula yang berasal dari masyarakat setempat.

 Banyak pula dari para muridnya itu, sekembalinya ke negara masing-masing, menjadi da`i, ustadz, dan ulama terkemuka.

Pada tanggal 2 Safar 1421 H / 6 Mei 2000, Universitas Alazhar Mesir, memberi Abuya gelar Profesor, berkat dedikasi beliau yang panjang dalam riset ilmiah dan karya tulis, yang memenuhi standar akademi. 

Selain itu, gelar honoris tersebut merupakan penghargaan atas jasa-jasa perjuangan beliau yang cukup lama, dalam dunia dakwah dan penyebaran ilmu syariat di banyak negara Islam.

Ayah dan kakek beliau, adalah ketua para khatib dan da`i di kota Makkah.

 Demikian juga dengan Abuya, profesi tersebut digeluti yakni sejak tahun 1971 dan harus berakhir pada tahun 1983, saat beliau dicekal dari kedudukan terhormat itu akibat penerbitan kitabnya yang berjudul; Mafahim Yajibu an Tushahhhah (Pemahaman-Pemahaman yang Harus Diluruskan), sebuah kitab yang banyak meluruskan paham yang selama ini diyakini oleh ulama-ulama Wahabi.

 Paham Wahabi sangat menguasai keyakinan mayoritas ulama Saudi Arabia dan mempunyai peran pesar dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Setelah pencekalan beliau dari pengajian umum dan khutbah, beliau mendedikasikan dirinya dalam pendidikan secara privat kepada ratusan murid-muridnya, dengan penekanan murid-murid dari Asia Tenggara, di kediaman di jalan Al Maliki di distrik Rushaifah Makkah. 

Setiap harinya, mulai ba`da Maghrib hingga ba`da Isya, Abuya menyampaikan pelajarannya, serta menyambut para tamu dan thalibul ilmi di tempat itu yang jumlahnya tidak kurang dari 500 orang. 

Bahkan, majelis beliau selalu dihadiri oleh para ulama dan pejabat, baik dari Saudi Arabia sendiri maupun dari luar negeri, yang datang untuk melaksanakan ibadah haji atau ziarah.

 Praktis, majelis itu menjadi ajang ta`aruf dan shilaturrahim yang diformat oleh Sayyid Muhammad secara simpel, sederhana, dengan didukung oleh sifat beliau yang begitu simpatik.

 Beliau selalu menanyakan kabar para jama`ah, mencari yang tidak hadir di antara muridnya, atau para jamaah yang istiqamah datang ke majelis tersebut.

Abuya dikenal sebagai figur yang sangat tawadlu, bijaksana, dan tidak ghuluw (fanatik secara berlebihan).

 Beliau selalu bersedia dan selalu siap bila diajak berdiskusi hingga beddebat.

 Beliau bukan figur yang senang mencerca atau marah kepada orang yang berbeda pendapat dengannya. 

Namun sikap tegas dan wibawah sudah menjadi bagian dari karakter hidupnya.

 Maka tak heran, semasa hidupnya, beliau adalah otoritas yang paling dihormati oleh kalangan Ahlussunnah Wal Jama`ah.

Di antara faktor yang menjadikan beliau mudah diterima oleh masyarakat adalah kelembutan bicara dan akhlaqnya, terutama kepada orang yang membutuhkan bantuan kepada beliau..

Pada tahun-tahun terakhir masa hidupnya, banyak sikap kelompok yang menyerang pendapat ilmiah beliau.

 Namun dengan kebesaran hatinya, Abuya menerima semua itu dengan penuh kesabaran. 

Beliau menjawab semua serangan tersebut dengan cara yang baik, dan menjelaskan duduk permasalahan dengan dalil-dalil syar`i. 

Abuya selalu mempunyai keyakinan, bahwa sejak ribuan tahun, tidak pernah tercatat dalam sejarah, adanya ulama yang berbeda pendapat dengan ulama lain, lantas menyerang dengan menggunakan cara-cara yang tidak etis, yang tidak layak dilakukan oleh seorang alim.

 Sikap beliau ini, berhasil meluluhkan hati banyak orang, yang pada asalnya berbeda pendapat dan menyerang beliau. 

Pada akhirnya mereka makin mengetahui ketulusan hati dan tujuan beliau dalam dakwah dan menyebarkan ilmu yang bersumber dari Alquran dan Sunnah.

Setelah berjuang panjang dalam dunia dakwah dan keilmuan, pada Jumat pagi hari, tanggal 15 Ramadhan 1425 H, setelah terkena serangan penyakit yang mendadak, beliau berpulang ke rahmatullah. 

Meninggalkan beberapa putra (Assayyid Ahmad, Assayyid Abdullah, Assayyid Alwi, Assayyid Ali, Assayyid Hasan, Assayyid Husain) dan beberapa putri. 

Beliau dimakamkan di pemakaman Ma`la Makkah Almukarramah.

Pemakaman beliau dihadiri para pentakziah dalam jumlah yang sangat besar. 

Jenazahnya dishalati di Masjid Alharam setelah shalat Isya pada hari itu. 

Abuya meninggal dunia dengan meninggalkan banyak pusaka yang sulit untuk dilupakan ummat Islam. 

Ribuan murid yang menyebar di berbagai negara, serta ratusan karya tulis dalam bentuk buku, monograf, makalah, dalam berbagai topik keislaman. 

Belum lagi kumpulan ceramah beliau yang terekam dalam kaset dan CD, Kitab-kitab maupun rekaman ceramah beliau, tidak bertujuan mencari keuntungan materi.

 Hal ini makin membuat beliau dicintai dan dihormati ummat. 

Abuya Assayyid Muhammad Bin Alwi Almaliki Alhasani akan terus berada dalam sanubari terdalam ummat Islam, karena wacana keilmiahannya masih terus dapat dinikmati generasi demi generasi, dan tak akan lekang oleh pergantian zaman.

Sumber FB Ustadz : Luthfi Bashori

26 April 2021

Lima Kategori Bidah : Haram, Sunnah, Wajib, Makruh, dan Mubah

Lima Kategori Bid’ah: Haram, Sunnah, Wajib, Makruh, dan Mubah - Kajian Islam Tarakan
Lima Kategori Bid’ah : Haram, Sunnah, Wajib, Makruh, dan Mubah
      
Secara umum bid’ah adalah segala sesuatu yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Pengertian ini didasarkan pada hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dari Abdullah bin Masúd radliyallahu ‘anhu sebagai berikut:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Artinya: “Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (baru) dan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Kita tidak menolak bahwa bid’ah memang ada baik secara faktual maupun secara konsep sebagaimana pengertian yang disebutkan di atas. Bahkan sebagian bid’ah adalah dlalalah atau sesat kita mengakuinya. Hanya saja kita menolak pemahaman bahwa setiap bid’ah tanpa kecuali adalah dlalalah karena memang tidak setiap bid’ah adalah dlalalah. Ada bid’ah yang bisa dibenarkan meski Rasulullah ﷺ tidak pernah melakukannya.

Selain itu, frasa “setiap bid’ah” yang merupakan terjemahan dari كُلَّ بِدْعَةٍ sebagaimana termaktub dalam hadits di atas tidak bisa dipahami secara denotatif bahwa setiap bid’ah tanpa kecuali adalah dlalalah sebab ungkapan dalam frasa itu menggunakan gaya bahasa yang disebut totum pro parte, yakni sebuah majas yang digunakan untuk mengungkapkan keseluruhan tetapi yang dimaksud adalah sebagian saja.

Gaya bahasa seperti itu dalam ilmu balaghat disebut majâz mursal ‘alâqatuhu al-kulliyyat sebagaimana yang kita temukan dalam كُلَّ سَفِيْنَةٍ dalam surat Al-Kahfi, ayat 79 sebagai berikut:
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Artinya: “Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku ingin membuat perahu itu cacat karena di belakang mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu (yang tidak cacat).”

Frasa “setiap perahu” yang merupakan terjemahan dari كُلَّ سَفِيْنَةٍ dalam ayat di atas tidak bermakna seluruh perahu tanpa kecuali, tetapi seluruh perahu yang kondisinya baik saja sehingga dalam konteks ayat ini perahu yang dilubangi Nabi Khidzir milik orang-orang yang miskin tidak dirampas oleh raja karena kondisinya cacat.

Oleh karena tidak setiap bid’ah adalah dlalalah, maka secara fiqih bid’ah dapat dikategorikan menjadi 5 (lima), yakni: wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Kategorisasi ini berdasarkan keterangan dari Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami, dalam kitab Al-Qawaídu Al-Kubra, Al-Mausum bi Qawaidil Ahkam fi Ishlahil Anam, Darul Qalam, Damaskus, Cetakan I, Tahun 2000, Juz II, Halaman 337, sebagai berikut:

الْبِدْعَةُ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إلَى: بِدْعَةٍ وَاجِبَةٍ، وَبِدْعَةٍ مُحَرَّمَةٍ، وَبِدْعَةٍ مَنْدُوبَةٍ، وَبِدْعَةٍ مَكْرُوهَةٍ، وَبِدْعَةٍ مُبَاحَةٍ

Artinya, “Bid‘ah adalah melakukan apa yang tidak dijumpai di masa Rasulullah ﷺ. Hukum Bid‘ah terbagi menjadi: wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah.”

Berdasar pada kategorisasi bid’ah sebagaimana disebutkan dalam kitab tersebut, Mbah KH Abdullah Asy’ari, Pengasuh Pondok Pesantren Darus Sholihin Surakarta, dalam sebuah ceramah Ramadhan di Masjid Tegalsari Surakarta pada bulan Ramadhan 1439 H, memberikan contoh bid’ah yang hukumnya haram, yakni shalat Subuh 4 rakaat.

Shalat Subuh 4 rakaat jelas bid’ah dlalalah karena tidak ada dasar dan contohnya. Shalat Shubuh 2 rakaat bersifat qath’i karena begitulah Rasulullah ﷺ telah menetapkannya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqiy, Ad-Daru Quthniy dan Ahmad sebagai berikut:

صَلاَةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ

Artinya: “Shalat Shubuh itu (hanya) dua rakaat.”

Adapun contoh bid’ah yang hukumnya sunnah, Mbah Kiai Abdullah Asyári memberikan contoh, yakni shalat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat.

Memang ada hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat tarawih 11 rakaat. Tetapi di zaman Khalifah Umar bin Khattab, shalat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat. Hal ini memang bid’ah. Pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan Sayyidina Umar tersebut merupakan bid’ah dlalalah?

Tentu saja tidak sebab Rasulullah ﷺ sendiri pernah berwasiat agar umatnya mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Khulafaur Rasyidin sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang diriwayatakan Abu Dawud dan At-Tirmidzi sebagai berikut:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِالرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya: “Wajib kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin Mahdiyyin (para pemimpin yang menggantikan Rasulullah, yang berada di atas jalan yang lurus, dan mendapatkan petunjuk). Berpegang teguhlah kalian padanya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian. Serta jauhilah perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.“

Jadi sunnah Khulafur Rasyidin itu ada dan legal karena dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ sendiri. Oleh karena itu, shalat tarawih dengan 23 rakaat tidak termasuk bid’ah yang haram, tetapi sunnah sebab mengikuti sunnah Sayyidina Umar sebagai salah seorang dari Khulafaur Rasyidin.

Sedangkan bid’ah yang hukumnya wajib, Mbah Kiai Abdullah Asy’ari memberikan contoh, yakni membukukan ayat-ayat Al-Qur’an. Di zaman Rasulullah ﷺ ayat-ayat Al-Qur’an memang tidak dibukukan, tetapi ditulis di kulit binatang, batu yang tipis, pelepah kurma, tulang binatang dan sebagainya.

Perkembangan zaman menuntut agar ayat-ayat Al-Qur’an dibukukan menjadi satu mushaf karena banyak para sahabat yang hafal Al-Qur’an telah meninggal dunia dan kondisi tulisan ayat-ayat Al-Quran dalam benda-benda tersebut semakin buruk karena faktor usia. Maka dilakukanlah pembukuan ayat-ayat Al-Quran yang berlangsung mulai zaman kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar bin Khattab hingga Sayyidina Utsman bin Affan.

Andaikan ayat-ayat Al-Qur’an tidak pernah dibukukan menjadi mushaf, kita yang hidup di zaman sekarang tidak akan pernah menjumpainya. Umat Islam akan hidup tersesat karena tidak memiliki kitab suci sebagai pedoman hidup. Memang harus diakui bahwa upaya membukukan ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan Khulafaur Rasyidin adalah sesuatu yang baru alias bid’ah, tetapi tidak dlalalah – tidak haram - karena hukumnya malah wajib.

Mengenai bid’ah yang hukumnya makruh Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami dalam kitab tersebut, halaman 338, memberikan contoh yakni menghiasai masjid. Tentu yang dimaksud dengan hiasan di sini adalah ornamen-ornamen yang tidak mengandung unsur dakwah.

Sedangkan contoh bid’ah yang termasuk kategori mubah, Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami pada halaman 339 memberikan contoh yakni jabat tangan usai shalat Subuh dan Ashar. Sedangkan Mbah Kiai Abdullah Asyári memberikan contoh bid’ah mubah adalah pergi haji dengan menggunakan pesawat terbang.

Kelima kategori bid’ah sebagaimana dirumuskan oleh Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami tersebut sangat penting dipahami dan dijadikan pegangan bagi kaum Muslimin secara umum dalam kehidupan beribadah mereka sehari-hari. Dengan cara ini mereka tidak akan terombang-ambing oleh pendapat-pendapat dari luar kalangan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah yang cenderung waton sulaya (asal berbeda).

Muhamad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Sumber Web : https://islam.nu.or.id/post/read/95503/lima-kategori-bidah-haram-sunnah-wajib-makruh-dan-mubah (Senin 10 September 2018 22:15 WIB)

Hukum Shalat Sunnah, Tapi Punya Utang Shalat Wajib

Hukum Shalat Sunnah, Tapi Punya Utang Shalat Wajib - Kajian Islam Tarakan
Hukum Shalat Sunnah, Tapi Punya Utang Shalat Wajib

Mengqadha’ shalat adalah salah satu kewajiban bagi seseorang yang meninggalkan shalat fardhu pada waktu yang telah ditentukan. Sebuah hadits menjelaskan sebagai berikut:

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Artinya, “Barang siapa lupa shalat atau tertidur hingga meninggalkan shalat, maka tebusannya adalah melaksanakan shalat tersebut ketika ia ingat,” (HR Muslim).

Shalat yang ditinggalkan oleh seseorang ada kalanya dikarenakan terdapat uzur atau tanpa uzur. Meninggalkan shalat karena uzur misalnya dikarenakan ia lupa terhadap shalat atau tidur sebelum waktu masuknya shalat dan bangun ketika waktu shalat telah habis, maka dalam keadaan demikian ia harus mengqadha’ shalatnya namun tidak wajib melaksanakan qadha’ tersebut sesegera mungkin setelah uzurnya hilang.

Sedangkan orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur misalnya seperti orang yang malas melakukan shalat, tidur setelah masuknya waktu shalat, terlalu sibuk bekerja hingga tidak sempat melaksanakan shalat, dan juga kasus-kasus yang lain sekiranya ia masih ingat atau sadar ketika masuknya waktu shalat, maka mengqadha’ shalat dalam hal ini wajib untuk dilakukan sesegera mungkin setelah habisnya waktu shalat.

Termasuk shalat yang wajib diqadha’i sesegera mungkin adalah shalat-shalat yang ia tinggalkan di masa lalu semenjak ia baligh karena malas, belum dapat hidayah dan faktor-faktor lain yang bukan termasuk dalam kategori uzur, meskipun shalat yang dulu ia tinggalkan tak terhitung jumlahnya karena begitu banyak, maka ia berkewajiban mengqadha’ shalat sebanyak mungkin sekiranya ia yakin bahwa shalat qadha’ yang telah ia laksanakan telah melampaui shalat-shalat yang dulu ia tinggalkan.

Dalam melaksanakan shalat yang ditinggalkan tanpa adanya uzur terdapat ketentuan khusus yaitu wajib menggunakan seluruh waktunya untuk mengqadla’i shalat yang ia tinggalkan kecuali untuk kepentingan yang bersifat pokok baginya seperti makan, minum, tidur, kencing dan lain-lain.

Sebab melaksanakan shalat yang ia tinggalkan wajib sesegera mungkin, sehingga ketika ia melaksanakan hal lain yang tidak bersifat pokok bagi dirinya maka berarti ia dianggap sebagai menunda melaksanakan qadha’ shalatnya dan hal ini adalah sesuatu yang diharamkan.

Termasuk dari hal yang diharamkan baginya adalah melakukan shalat sunnah, sebab hukum mengqadha’i shalat dengan sesegera mungkin baginya adalah wajib, sedangkan melaksanakan shalat sunnah, seperti qabliyyah, ba’diyyah, dhuha dan shalat sunnah yang lain adalah sunnah.

Ketika ia melaksanakan shalat sunnah, berarti ia lebih mementingkan kesunnahan daripada kewajiban dan hal ini jelas tidak diperbolehkan. Bahkan menurut Imam Zarkasyi, shalat sunnah yang ia lakukan dihukumi tidak sah. Penjelasan di atas seperti yang terdapat dalam Kitab Fathul Mu’in:

قال شيخنا أحمد بن حجر رحمه الله تعالى: والذي يظهر أنه يلزمه صرف جميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه، وأنه يحرم عليه التطوع (قوله: وأنه يحرم عليه التطوع) أي مع صحته، خلافا للزركشي

Artinya, “Guruku, Ahmad bin Hajar berkata, ‘hal yang jelas bahwasannya wajib (bagi orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur) untuk mengalokasikan seluruh waktunya untuk melakukan qadha’ selain waktu yang ia butuhkan berupa sesuatu yang tidak dapat ia tinggalkan, dan sesungguhnya haram baginya melakukan shalat Sunnah, meski shalatnya tetap sah, namun imam az-Zarkasyi berpandangan berbeda (tidak sah shalatnya),’” (Lihat Syekh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Muin, juz I, halaman 31).

Berbeda halnya melaksanakan shalat sunnah bagi orang yang meninggalkan shalat karena uzur, maka hal ini tetap diperbolehkan baginya, sebab ia tidak wajib mengqadha’i shalat yang ia tinggalkan sesegera mungkin, namun hal tersebut hanya sebatas sunnah baginya.

Demikian penjelasan materi ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa melaksanakan shalat sunnah bagi orang yang meninggalkan shalat tanpa adanya uzur adalah hal yang diharamkan bahkan akan berakibat tidak sahnya shalat menurut Imam Az-Zarkasyi.

Adapun orang yang meninggalkan shalat karena uzur, boleh baginya melaksanakan shalat sunnah tanpa ada larangan dari syara’. Oleh sebab itu jika di masa lalu kita pernah meninggalkan shalat dan belum kita qadha’i, alangkah baiknya kita mengqadha’ shalat tersebut sesegera mungkin, karena akan berakibat pada haramnya melaksanakan ibadah-ibadah lain. Wallahu a’lam. (Ali Zainal Abidin)

Sumber Web : https://islam.nu.or.id/post/read/99268/hukum-shalat-sunnah-tapi-punya-utang-shalat-wajib (Kamis 22 November 2018 04:00 WIB)

Qoute Islam

Doa Islam