Sembuh Dengan Izin Alloh

Sembuh Dengan Izin Alloh - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Sembuh Dengan Izin Alloh

Setiap penyakit pasti memiliki obatnyam bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Alloh SWT. (HR. Muslim)

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
17 November 2018 pukul 16.57 ·

Jangan Lupa Baca Surat Al Kahfi

Jangan Lupa Baca Surat Al Kahfi - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Jangan Lupa Baca Surat Al Kahfi

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya diantara dua Jumat." (HR. An Nasa’i dan Baihaqi)

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
16 November 2018 pukul 11.47 ·

Mensyukuri Nikmat Dari Allah

Mensyukuri Nikmat Dari Alloh - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Mensyukuri Nikmat Dari Allah

Seharusnya jika semakin banyak keinginan, semakin banyak bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Karena rasa syukurlah yang akan membuka tambahan karunia dari Allah.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
15 November 2018 pukul 11.35 ·

Jauhi Maksiat dan Kesia-Siaan

Jauhi Maksiat dan Kesia-Siaan - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Jauhi Maksiat dan Kesia-Siaan

Orang yang tidak sibuk dengan kebaikan, akan mudah sibuk dengan maksiat. Orang yang sibuk dengan maksiat akan semakin malas ibadah, semakin buruk akhlaknya dan semakin bermasalah.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
14 November 2018 pukul 16.53 ·

Menjaga Niat Dalam Beramal

Menjaga Niat Dalam Beramal - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Menjaga Niat Dalam Beramal

Jangan pernah lalai untuk memeriksa niat, karena niat lebih penting dari amal itu sendiri. Besar kecil amal tergantung niatnya.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
14 November 2018 pukul 10.56 ·

Do’a Dari Nabi SAW Agar Terhindar Dari Wabah Penyakit

Do’a Dari Nabi SAW Agar Terhindar Dari Wabah Penyakit - Doa - Kajian Islam Tarakan
DO’A DARI NABI SAW AGAR TERHINDAR DARI WABAH PENYAKIT
(Virus Corona / Covid-19 atau wabah lainnya)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
لآ إِلٰـــهَ إِلَّا اللهُ، الْعَظِيْمُ الْـحـَلِيْمُ، لآ إِلٰــــهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ،وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ.

Artinya : “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Lembut Kasih Sayangnya, Tiada Tuhan selain Allah Yang memiliki ‘arsy yang agung, Tiada Tuhan selain Allah Rabb (Penguasa) seluruh langit dan bumi, dan Tuhannya `arsy yang mulia.”

اَللّٰهُمَّ إِنّـِيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجـُنُوْنِ، وَالْـجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّـئِ الْأَسْقَامِ

Artinya : “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari penyakit belang, gila dan lepra serta dari penyakit-penyakit yang buruk (membahayakan)”

Ket :
- Dibaca di dalam do`a setiap selesai shalat fardhu dan sebanyak-banyaknya dalam setiap kesempatan.
- Jangan lupa agar dapat membiasakan dengan hidup bersih serta menjaga kondisi sehat jasmani dan psikologi

Sumber FB : Buya Yahya
15 Maret 2020 pukul 11.39 ·

Akidah Imam Ahmad

Akidah Imam Ahmad - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Akidah Imam Ahmad

Penulis Kitab al-Khishal dari kalangan ulama Hanbali menukil dari Imam Ahmad bahwa ia berkata :
"Siapa yang berkata bahwa Allah adalah jisim yang berbeda dengan jisim lain, maka ia kafir"
(Az-Zarkasyi, Tasynif al-Masami')

#Akidah Aswaja

Sumber FB : Abdul Wahab Ahmad
5 Maret 2020·

Anak-anak Muda Mesti Kita Jaga

Anak-anak Muda Mesti Kita Jaga - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Anak-anak Muda Mesti Kita Jaga

"Anak-anak muda ini mesti kita jaga, karena kalo tak kita jaga godaannya luar biasa. Internet, playstation, warnet, facebook, twitter bbm, whatsapp, instagram, telegram, miligram, kilogram........... Luar biasa godaannya."
.
(Ustadz Dr. Abdul Somad. Lc., M.A)

Sumber Instagram : uas_originalstore
.
@uas_originalstoresumut
@uas_originalstoreaceh
@uas_originalstoresumbar
@uasoriginalstore.kalimantan
@uasoriginalstoreriau
@uas_originalstore.kaltim
@uas_originalstore .

#giveaway#ustadzabdulsomad
#uasoriginalstore
#islam
#muslim
#ootd
#newyear

kajian islam tarakan

Tiga Amalan Yang Dicintai Allah SWT

Tiga Amalan Yang Dicintai Allah SWT - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Tiga Amalan Yang Dicintai Allah Subhanahu wata'ala

1. Berbakti kepada orang tua
2. Shalat tepat waktu.
3. Jihad di jalan Allah.
(HR. Al-Bukhori). 
@uas_originalstore

Sumber Instagram : uas_originalstore

👉 Kontak Order 👇

ORDER ECERAN & RESELLER :
Whatsapp 0822-15-0000-27

BUKALAPAK : UAS ORIGINAL STORE. .
TOKOPEDIA : UAS ORIGINAL STORE. .
SHOPEE : UAS_ORIGINALSTORE. .

NOTE.
- Stock TERBATAS - Pengiriman dari Kota Bandung, bisa pakai Gosend area Bandung.
- Butuh cepat? Bisa pengiriman 1 Hari sampai.
- Max Transfer jam 3 Sore jika ingin dikirim pada Hari yang sama, selebihnya ikut pengiriman Hari Besok.

#ustadzabdulsomad#sahabatuas
#uasoriginalstore
#fashion #instafashion
#fashionmuslim #fashionweek
#viral #style #wiwt
#instagood #muslim #islam
#instadaily #kids
#likelike #indonesia
#follow #tni #ootd
#ootdhijab #ootdfashion #ootdman #fashionblogger #fashionmuslim

kajian islam tarakan

Musibah Terbesar Dalam Hidup

Musibah Terbesar Dalam Hidup - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Musibah Terbesar Dalam Hidup
"Kematian bukanlah musibah terbesar dalam hidup.
Musibah terbesar adalah ketika rasa takut kepada Allah telah mati, padahal kita masih hidup. "
(Ust. Dr. Abdul Somad, Lc., M.A.).

Sumber Instagram : uas_originalstore 

Dapatkan produk-produk fashion berkualitas di @uas_originalstore. .
Yuk dapatkan koleksinya hanya di @uas_originalstore di seluruh Indonesia .

Info dan pemesanan ada di bawah ini ya.👇👇👇.
.
Untuk daerah terdekat.
Silahkan menghubungi distributor terdekat di kota anda. .
@uas_originalstore
@uasoriginalstore.kalimantan
@uas_originalstoreaceh
@uas_originalstoremakassar
@uas.originalstore_jambi
@uas_originalstoresumbar
@uas_originalstoresumut
@uas_originalstore.kaltim
@uasoriginalstoreriau
@tokobukuamanah_uas .
. 👉 Kontak Order 👇

ORDER ECERAN & RESELLER :
Whatsapp 0822-15-0000-27

BUKALAPAK : UAS ORIGINAL STORE. .
TOKOPEDIA : UAS ORIGINAL STORE. .
SHOPEE : UAS_ORIGINALSTORE. .

NOTE.
- Stock TERBATAS - Pengiriman dari Kota Bandung, bisa pakai Gosend area Bandung.
- Butuh cepat? Bisa pengiriman 1 Hari sampai.
- Max Transfer jam 3 Sore jika ingin dikirim pada Hari yang sama, selebihnya ikut pengiriman Hari Besok.

#ustadzabdulsomad
#sahabatuas
#uasoriginalstore
#fashion #instafashion
#fashionmuslim #fashionweek
#viral #style #wiwt
#instagood #muslim #islam
#instadaily #kids
#likelike #indonesia
#follow #tni #ootd

#ootdhijab #ootdfashion #ootdman #fashionblogger #fashionmuslim

kajian islam tarakan

Jangan Khawatir Dengan Rezeki

Jangan Khawatir Dengan Rezeki - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Jangan Khawatir Dengan Rezeki

"Jika kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya Alloh akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Ahmad dan Turmuzi).

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
10 November 2018 pukul 14.58 ·

Beruntung Dalam Bekerja

Beruntung Dalam Bekerja - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Beruntung Dalam Bekerja

Orang yang beruntung dalam bekerja adalah mereka yang selalu berusaha untuk berubah menjadi lebih baik, terus memperbaiki kualitas diri dan amalnya.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
10 November 2018 pukul 11.36 ·

Kenali Aqidah Menyimpang Musyabbihah dan Hasyawiyah Lalu Jauhi

Kenali Aqidah Menyimpang Musyabbihah dan Hasyawiyah Lalu Jauhi - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Kenali Aqidah Menyimpang Musyabbihah dan Hasyawiyah Lalu Jauhi

"Musyabbihah dan Hasyawiyah berkata : Nuzul adalah turunnya Dzat All dengan gerakan dan perpndahan dari satu tempat ke tempat lainnya, dan Istiwa' adalah duduk dan berdiam di atas Arasy".
(Imam Ibnu Asakir - Yabyin Kadzib al-Fuftari)

jangan sampai punya akidah seperti Musyabbihah dan Hasyawiyah..!!

Abdul Wahab Ahmad

Sumber FB : Abdul Wahab Ahmad
10 jam ·
Kenali lalu jauhi

kajian islam tarakan

Membentengi Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah

MEMBENTENGI AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL-JAMAAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي حبَّب العبادة إلى المتقين، وحبَّب قلوبهم للانشغال بط ة رب العالمين وجنبهم من البدعة والضلالة, والصلاة والسلام على سيدنا ونبينا محمد وعلى آله وأصحابه والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين

MUQADDIMAH
Sesuatu yang paling berharga yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba adalah aqidah yang benar. Maka ilmu yang membahas tentang aqidah yang benar adalah ilmu yang amat penting dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Diskusi-diskusi yang diadakan jika hal itu untuk membela dan menjaga aqidah yang benar, maka itu adalah sebaik-baik diskusi. Saat ini kami sungguh sangat berbahagia, karena kami beserta para alim ulama begitu intens mendiskusikan aqidah dan bagaimana upaya kita untuk menjaga aqidah umat. Kami yakini bahwa kita semua akan senantiasa dalam lindungan dan pertolongan Allah sesuai janji Allah: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت:٦٩)
Artinya: “Dan mereka yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran-Ku, sungguh Aku akan memberi petunjuk kepada mereka.”

Menjaga aqidah umat adalah sebaik-baik hadiah yang diberikan oleh para ulama kepada kita. Lebih-lebih di saat merebaknya fitnah-fitnah yang menggerogoti aqidah seperti yang kita rasakan dan saksikan saat ini. Bahkan ada di antara kita yang sudah keropos aqidahnya, namun ia tidak merasa tergerogoti. Umat Islam adalah umat yang besar, tapi sering lengah dengan jumlah yang besar ini sehingga kadang-kadang kita kurang mencermati hal-hal yang disusupkan musuh-musuh Allah dalam tubuh umat Islam. Maka dalam kesempatan ini kami mengulas sekilas tentang aqidah yang benar untuk bisa menjadi bekal bagi kita di dalam menegakkan dan menjaga aqidah umat Islam dunia dan Indonesia khususnya yang alhamdulillah dari generasi ke generasi menganut aqidah yang benar yaitu Ahlussunnah wal-Jamaah.

PERTOLONGAN PERTAMA DI ZAMAN FITANAH AQIDAH
Maksud pertolongan pertama di zaman fitnah aqidah di sini adalah bagaimana kita menghadirkan hal terpenting dan mendesak yang dibutuhkan oleh umat dalam upaya membentengi aqidah yang benar. Ada dua hal yang secara subtansi dan maknawi tidak terlalu penting, tapi perlu diperhatikan lebih karena dari situlah kesesatan akan masuk. Dua hal tersebut yang pertama mengenal sebuah identitas dan yang kedua adalah mempertahankan manhaj talaqqi.

MENGENAL SEBUAH IDENTITAS
Bicara soal aqidah yang benar sangat sulit jika disampaikan hanya dalam ceramah yang singkat atau dalam pertemuan sesaat. Tapi dengan menyadari dan memahami identitas diri kebenaran aqidahnya, bisa dengan sangat mudah dijaga dan dikontrol agar seseorang tidak terbawa marus dalam kelompok aqidah yang salah atau sesat. Kita saksikan amaliyah keseharian mulai dari tawasulan, tahlilan, membaca kitab Maulid secara bersamaan (Asyraqalan atau Marhabanan), sungguh itu semua adalah amaliyah yang benar dan telah menjadi ciri khas aqidah yang benar.

Kalau kita cermati para ulama terdahulu dalam urusan aqidah dan amaliyah, mereka lebih mementingkan isi daripada kulit. Hingga terkadang seorang Muslim awam Ahlussunnah wal-Jamaah dengan kualitas aqidahnya yang sudah benar, akan tetapi dia tidak mampu untuk menjelaskan Ahlussunnah wal-Jamaah dengan panjang dan lebar dengan pemaparan ilmiah. Padahal sebetulnya penjabaran makna aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah secara panjang lebar sudah dihadirkan dan disosialikan oleh ulama-ulama terdahulu dengan metode yang sangat sederhana.

Cara penjabaran dan pemaparan luas dan halus amatlah tepat pada masa di saat fitnah aqidah belum banyak tersebar. Akan tetapi di saat fitnah aqidah merebak dimana-mana dan pergeseran nilai aqidah mudah terjadi, kita harus bisa mencermati sebab–sebab umat ini termakan fitnah. Kita bisa saksikan di saat munculnya ahli fitnah yang tidak henti-hentinya merendahkan dan mencaci aqidah Ahlusunnah wal-Jamaah. Orang-orang awam pun diam, karena tidak tahu kalau mereka sendiri yang dicaci karena mereka tidak mengenal identitas mereka sendiri.

Maka dari itu, kami perlu mengenalkan sebuah identitas diri yang sebenarnya memang itu hanya berurusan dengan kulit dan bukan substansi aqidah. Akan tetapi sebagai langkah awal membentengi aqidah dalam kondisi mendesak dan darurat, pengenalan identitas diri saat ini amat diperlukan, terutama saat ini fitnah dan pemalsu-pemalsu aqidah begitu gencar.

Di samping itu, kenapa mengenal identitas diri ini penting adalah karena banyaknya orang yang memusuhi aqidah para ulama ahlusunnah. Ironisnya, kelompok ini pun dengan lantang meneriakan syiar dan slogan Ahlussunnah wal-Jamaah dan menamakan diri dengan Ahlussunnah wal- Jamaah. Oleh karena itu pengenalan identitas ini sangat penting untuk membedakan Ahlussunnah wal-Jamaah yang sesungguhnya dengan ahlussunnah wal-jama’ah yang palsu. Setelah itu, dalam pembahasan berikutnya, akan coba dijelaskan perbedaan antara Ahlussunnah wal-Jamaah yang palsu dan Ahlussunnah yang sesungguhnya dengan kajian ilmiah. Identitas yang kami maksud adalah:

  1. Islam
  2. Ahlussunnah wal-Jamaah
  3. Asy’ariyah atau Maturidiyah.
  4. Sufiyyah
  5. Pengikut salah satu 4 mazhab

Seseorang yang beraqidah yang benar adalah seorang Muslim, Sunni, Asy’ari, Sufi dan bermazhab. Artinya di zaman fitnah ini tidak cukup seseorang itu dikatakan aqidahnya benar jika dia hanya menyebut dirinya sebagai seorang muslim saja. Sebab, Islam sekarang bermacam-macam dan alangkah banyaknya Islam yang dipalsukan oleh musuh-musuh Allah.

Sebagai pembuktian bahwa aqidahnya benar, maka seorang Muslim harus melanjutkan ikrar bahwa dirinya adalah Muslim Ahlussunnah wal-Jamaah.
Itupun sejatinya belum cukup mengingat banyaknya pemalsu Ahlussunnah wal-Jamaah yang dilakukan oleh musuh-musuh Ahlusunnah wal Jamaah. Maka dari itu, harus dilanjutkan ikrar bahwa dirinya adalah pengikut Ahlussunnah wal-Jamaah Asy’ariyah.

Orang yang mengatakan dirinya sebagai Asy’ari atau pengikut Imam Abul Hasan Al-Asy’ari juga belum cukup, sebab ada sekelompok orang yang sepertinya mengagungkan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, ternyata mereka adalah musuh-musuh Abul Hasan Al-Asy’ari. Pengikut Imam Abul Hasan yang benar adalah mereka yang berani mengatakan dirinya pengikut para ahli Tasawuf (sufiyyah) di dalam ilmu mendekatkan diri kepada Allah. Maka seorang Asy’ari yang benar haruslah dia berkeinginan untuk menjadi seorang sufi dan mencintai ahli tasawuf.

Termasuk fitnah besar akhir-akhir ini dimunculkan adalah tuduhan sesat kepada ahli tasawuf. Memang kita akui ada segelintir orang yang menodai citra tasawuf. Itu tergolong orang yang sesat mengaku bertasawuf. Adapun tasawuf adalah ilmu untuk membersihkan hati dalam irama mencari ridha Allah.
Maka sangat sesat orang-orang yang memusuhi tasawuf biar pun dia mengaku Ahlusunnah dan biar pun juga mengakui Abul Hasan Al-Asy’ari.
Yang terakhir adalah identitas Ahlussunnah wal-Jamaah di dalam masalah fiqih mereka adalah orang-orang yang mengikuti kepada Imam Mazhab yang empat: Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad Bin Hanbal. Dalam bahasa fiqih, kita sering menyebut dengan istilah bertaqlid kepada salah satu dari imam 4 mazhab.

Identitas terakhir ini juga sangat perlu dihadirkan sebab pada zaman akhir ini telah muncul orang yang mengaku Ahlussunnah wal-Jamaah dengan kesombongannya mereka merendahkan dan membenci taqlid bahkan sampai mencaci-maki dan merendahkan para ulama yang bertaqlid. Bertaqlid adalah termasuk ciri aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah yang benar.
Maka orang sesat adalah orang yang mengaku Islam tetapi bukan Ahlussunah, membenci Asy’ariyah, membenci tasawuf, dan tidak mau bermazhab. Ini adalah cara pintas untuk mengenali orang-orang yang beraqidah benar di tengah-tengah kesesatan umat.

 MANHAJ TALAQQI
Talaqqi adalah pengambilan ilmu dengan memperhatikan kedisiplinan, kesinambungan, keilmuan antara guru dengan murid. Hal yang semacam ini sangat berarti dalam irama menjaga dan mengkaji Ahlussunnah wal-Jamaah yang benar. Di sini bukan berarti seseorang tidak boleh memperluas ilmu dengan cara membaca, tetapi lebih menekankan agar seseorang mempunyai dasar-dasar aqidah yang benar yang diambil dari guru yang jelas terlebih dahulu, sebelum dia mengembara dengan akal pikirannya ke berbagai disiplin ilmu atau untuk menelaah pemikiran-pemikiran aqidah yang berbeda.
Pada dasarnya cara ini sudah mengakar dan membudaya di lingkungan pesantren-pesantren salaf yang diasuh oleh para ulama dengan metode sorogan atau memindah ilmu dengan membaca kitab secara kalimat per kalimat dari awal hingga akhir. Seperti yang sangat kita sering dengar dengan pengenalan kitab-kitab aqidah, seperti: Aqidatul Awam, Jauharatut Tauhid dan yang lainnya yang secara ilmiah terbukti itu adalah penjabaran dari aqidah Ahlusunnah wal-Jamaah. Nah, menjaga mata rantai dan kesinambungan keilmuan seperti ini adalah sangat penting. Dalam pengamatan kenyataan di zaman ini kita tidak menemukan kesesatan kecuali di saat seseorang tersebut meninggalkan buku-buku aqidah para pendahulunya dan cara yang dianut oleh pendahulunya dalam mengambil ilmu.

Ada 3 hal yang amat penting untuk kita cermati dalam masalah manhaj talaqqi terhadap kerusakan aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah.
Dari awal pendidikan agamanya memang tidak dikenalkan dengan aqidah yang benar melalui kitab-kitab yang benar dengan manhaj talaqqi. Dalam hal ini bisa dibuktikan bahwa jika ada pesantren atau lembaga pendidikan yang tidak berpegang kepada manhaj talaqqi sudah tidak ada lagi, maka yang terjadi adalah mudah tercemar oleh aqidah yang sesat.

Manhaj talaqqi masih diberlakukan, tapi itu hanya sekedar pembacaan rutin tanpa ditindaklanjuti kajian yang lebih dalam. Ini akan menjadikan seseorang akan mudah tercemar oleh aqidah-aqidah yang sesat karena di satu sisi mereka kurang mendalami aqidah yang mereka tekuni. Di sisi lain virus kesesatan bertebaran melalui media-media yang saat ini menjadi lebih dekat dengan masyarakat, seperti: televisi, radio dan buletin-buletin yang lebih mudah dibaca dan mudah dipahami seiring berkembangnya dunia tekhnologi. Sementara penyeru kesesatan pun sangat gigih dalam menyebarkan kesesatan.

Semangat ingin tahu kepada agama yang tinggi yang tidak dibarengi dengan bimbingan seorang guru dan hanya mengandalkan kemampuannya dalam membaca buku-buku yang ditemukannya di toko-toko buku atau yang dibaca melalui internet. Inilah salah satu penyebab aqidah kita semakin hari semakit keropos.
Kita bisa saksikan dengan para perusak aqidah telah dengan gigihnya membuat radio-radio, mencetak buku-buku murah dan gratis serta selebaran yang dibagi secara cuma-cuma.

Sebagai contoh, di kebanyakan kota kabupaten penyebar aqidah sesat itu berusaha untuk mempunyai radio karena mereka yakin dengan adanya radio mereka bisa mempengaruhi masyarakat luas yang sebenarnya di hati mereka ada kerinduan untuk mendalami ilmu agama. Dengan membuat stasiun radio ternyata tanpa kita sadari pengaruh mereka terhadap kesesatan sangatlah besar. Justru kita sebagai pembawa aqidah yang benar kita kurang berfikir maju untuk menguasai media informasi demi membendung arus penyesatan aqidah.

Hubungannya dengan manhaj talaqqi yang kami sebut adalah: Kita jangan memulai belajar aqidah kecuali dengan manhaj talaqqi. Kita harus berusaha agar media-media yang ada dan juga toko-toko buku bisa dipenuhi oleh orang-orang yang mempunyai aqidah yang benar dan menekuni manhaj talaqqi. Dan jangan membaca buku aqidah kecuali atas petunjuk guru yang mempunyai manhaj talaqqi.

HAKEKAT AHLUSSUNNAH WAL-JAMAAH
Ahlussunnah wal-Jamaah adalah manhaj beraqidah yang benar dengan dua ciri. Pertama, mereka sangat mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW. Kedua, mereka juga sangat mencintai sahabat Nabi Muhammad SAW. Tidak cukup orang mengaku beragama Islam, tetapi dengan mudah mereka mencaci para sahabat Nabi Muhammad SAW. Yang keluar dari Ahlussunnah wal-Jamaah model ini diwakili oleh kelompok Syi’ah (Syi’ah Imamiyah Itsnata ’Asyariyah) dengan ciri khas paling menonjol dari mereka adalah mengagungkan ahlu bait Nabi Muhammad SAW tetapi merendahkan para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Begitu juga tidak cukup orang mengaku Islam, tetapi dia merendahkan ahlu bait Nabi Muhammad SAW. Yang keluar dari Ahlusunnah wal-Jamaah model ini diwakili oleh mereka yang mempunyai ciri khas yaitu yang tidak peduli dengan urusan ahlul bait Nabi Muhammad SAW, mencoba merendahkan Sayyidina Ali bin Abi Tholib biarpun di sisi lain mereka mengakui para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Ringkasnya, Ahlussunnah wal-Jamaah adalah mereka yang memuliakan ahlu bait dan sekaligus mengagungkan para sahabat Nabi Muhammad SAW.
Ada di antara orang-orang yang mengaku mengagungkan dan memuliakan para sahabat Nabi Muhammad SAW dan ahlu bait Nabi Muhammad SAW, akan tetapi mereka punya penafsiran-penafsiran tentang aqidah yang jauh dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah SAW, yaitu dari kaum Jabariyah dan Qodariyah.
Di saat seperti itu, munculah seorang yang dinobatkan sebagai Imam besar yang telah berusaha untuk membersihkan aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah yang benar dari unsur luar dan menjerumuskan. Munculah cetusan-cetusan ilmu aqidah yang benar yang dari masa ke masa dan menjadi pegangan umat Islam sedunia, yaitu: Aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah Asy’ariyah.

Asy’ariyah adalah sebuah pergerakan pemikiran pemurnian aqidah yang dinisbatkan kepada Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Beliau lahir di Bashrah tahun 260 Hijriyah bertepatan dengan tahun 935 Masehi. Beliau wafat di Bashrahpada tahun 324/975-6 M. Imam Al-Asy’ari pernah belajar kepada ayah tiri beliau yang bernama Al-Jubba’i, seorang tokoh dan guru dari kalangan Mu’tazilah. Sehingga Al-Asy’ari mula-mula menjadi penganut Mu’tazilah, sampai tahun 300 H. Namun setelah beliau mendalami paham Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun, terjadilah debat panjang antara beliau dengan gurunya, Al-Jubba’i dalam berbagai masalah. Debat itu membuatnya tidak puas dengan konsep Mu’tazilah dan beliau pun keluar dari paham itu dan kembali kepada pemahanan Ahlusunnah wal jama’ah.

Imam Al-Asy’ari telah berhasil mengembalikan pemahaman sesat kepada aqidah yang benar dengan kembali kepada apa yang pernah dibangun oleh para salaf (ulama sebelumnya) dengan senantiasa memadukan antara dalil nash (naql) dan logika (‘aql). Dengan itu belaiu berhasil melumpuhkan para pendukung Mu’tazilah yang selama ini menebar fitnah di tengah-tengah ummat Ahlus Sunnah. Bisa dikatakan sejak berkembangya aliran Asy’ariyah inilah Mu’tazilah berhasil diruntuhkan.

Kaum Asya’irah, dari masa ke masa selalu mempunyai peran dalam membela aqidah yang benar, Aqidah Ahlusunnah wal Jamaah.
Terbukti dalam sejarah perkembangan Islam ulama Asya’irah-lah yang memenuhi penjuru dunia. Merekalah ahlussunnah yang sesungguhnya.
Adalagi pakar aqidah yang semasa dengan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, yaitu Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Secara umum tidak ada perbedaan di antara keduanya. Hanya karena yang tersebar di Indonesia adalah dari Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, maka kami sebut lebih sering Asy’ariyah.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber Web : https://buyayahya.org/membentengi-aqidah-ahlussunnah-wal-jamaah.html (JANUARY 11, 2018)

Kontroversi Hukum Puasa Rajab : Sunnah atau Bidah?

KONTROVERSI HUKUM PUASA RAJAB: SUNNAH/BID’AH?

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العلمين. وبه نستعين على أمور الدنيا والدين. وصلى الله على سيدنا محمد وآله صحبه وسلم أجمعين. قال الله تعالى: إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين. الأية . وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى ‏ ‏محمد ‏وشر الأمور ‏ ‏محدثاتها ‏وكل بدعة ضلالة . أما بعد:

PENDAHULUAN

Ada 2 hal yang harus diperhatikan dalam membahas masalah puasa Rajab.

Pertama: Tidak ada riwayat yang benar dari Rasulullah SAWyang melarang puasa Rajab.
Kedua: Banyak riwayat tentang keutamaan puasa Rajab yang tidak benar dan palsu.

Dan di dalam masyarakat kita terdapat 2 kutub ekstrim.

Pertama: Adalah sekelompok kecil kaum Muslimin yang menyuarakan dengan lantang bahwa puasa bulan Rajab adalah bid’ah.
Kedua: Sekelompok orang yang biasa melakukan atau menyeru puasa Rajab, akan tetapi tidak menyadari telah membawa riwayat-riwayat tidak benar dan palsu.

Maka, dalam risalah kecil ini, kami ingin mencoba menghadirkan riwayat yang benar sekaligus pemahaman para ulama 4 mazhab tentang puasa di bulan Rajab.

Sebenarnya masalah puasa Rajab sudah dibahas tuntas oleh ulama-ulama terdahulu dengan jelas dan gamblang. Akan tetapi karena adanya kelompok kecil hamba-hamba Allah yang biasa menuduh bid’ah orang lain menyuarakan dengan lantang bahwa amalan puasa di bulan Rajab adalah sesuatu yang bid’ah.

Dengan Risalah kecil ini, mari kita lihat hujjah para ulama tentang puasa bulan Rajab dan mari kita juga lihat perbedaan para ulama di dalam menyikapi hukum puasa di bulan Rajab. Yang jelas bulan Rajab adalah termasuk bulan haram yang 4 (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) dan bulan haram ini dimuliakan oleh Allah SWT, sehingga tidak diperkenankan untuk berperang di dalamnya dan masih banyak keutamaan di dalam bulan-bulan haram tersebut khususnya bulan Rajab.

Di sini kami hanya akan membahas masalah puasa Rajab, untuk masalah yang lainnya seperti hukum merayakan Isra’ Mi’roj dan Shalat malam di bulan Rajab akan kami hadirkan pada risalah yang berbeda.

Tidak kami pungkiri adanya hadits-hadits dha’if atau palsu (maudhu’) yang sering dikemukakan oleh sebagian pendukung puasa Rajab. Maka dari itu, kami menjelaskan agar jangan sampai ada yang membawa hadits-hadits palsu biar pun untuk kebaikan seperti memacu orang untuk beribadah, hukumnya adalah haram dan dosa besar. sebagaimana ancaman Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّءْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa sengaja berbohong atas namaku, maka hendaknya mempersiapkan diri untuk menempati neraka.”

Perlu diketahui bahwa dengan banyaknya hadits-hadits palsu tentang keutamaan puasa Rajab itu bukan berarti tidak ada hadits yang benar yang membicarakan tentang keutamaannya bulan Rajab.

DALIL-DALIL TENTANG PUASA RAJAB

Dalil tentang Puasa Rajab secara Umum

Himbauan secara umum untuk memperbanyak puasa kecuali di hari-hari yang diharamkan yang 5 (lima). Bulan Rajab adalah bukan termasuk hari-hari yang diharamkan. Juga anjuran-anjuran memperbanyak di hari-hari seperti puasa hari Senin, puasa hari Kamis, puasa hari-hari putih, puasa Daud dan lain-lain yang itu semua bisa dilakukan dan tetap dianjurkan walaupun di bulan Rajab. Berikut ini adalah riwayat-riwayat tentang keutamaan puasa.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari No. 5472:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ أَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامُ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ

“Semua amal anak Adam (pahalanya) untuknya kecuali puasa maka aku langsung yang membalasnya.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No. 1942:
لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih wangi dari misik menurut Allah kelak di hari kiamat”

Yang dimaksud Allah akan membalasnya sendiri adalah pahala puasa tak terbatas hitungan, tidak seperti pahala ibadah shalat jamaah dengan 27 derajat. Atau ibadah lain yang satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan.

Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari No. 1063 dan Imam Muslim No. 1969 :
إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَ يُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya paling utamanya puasa adalah puasa saudaraku Nabi Daud, beliau sehari puasa dan sehari buka.”

Dalil-Dalil Puasa Rajab secara Khusus

Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim
أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ حَكِيْمٍ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ: “ سَأَلْتُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبَ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِيْ رَجَبَ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ”

“Sesungguhnya Sayyidina Ustman Ibn Hakim Al-Anshari, berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Muhammad SAW berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.”

Dari riwayat tersebut di atas, bisa dipahami bahwa Nabi SAW pernah berpuasa di bulan Rajab dengan utuh, dan Nabi pun pernah tidak berpuasa dengan utuh. Artinya, di saat Nabi SAW meninggalkan puasa di bulan Rajab itu menunjukan bahwa puasa di bulan Rajab bukanlah sesuatu yang wajib. Begitulah yang dipahami para ulama tentang amalan Nabi SAW. Jika Nabi melakukan satu amalan kemudian Nabi meninggalkannya itu menunjukan amalan itu bukan sesuatu yang wajib, dan hukum mengamalkannya adalah sunnah.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah
عَنْ مُجِيْبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيْهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ: أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالَتُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمَا تَعْرِفُنِيْ. قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيِّ الَّذِيْ جِئْتُكَ عَامَ اْلأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلاَّ بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ. ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِيْ فَإِنَّ بِيْ قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلاَثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا. رواه أبو داود 2/322

“Dari Mujibah Al-Bahiliah dari ayahnya atau pamannya, sesungguhnya ia (ayah atau paman) datang kepada Rasulullah SAW kemudian berpisah dan kemudian datang lagi kepada Rasulullah SAW setelah setahun dalam keadaan tubuh yang berubah (kurus), dia berkata: Ya Rasulullah SAW, apakah engkau tidak mengenalku?” Rasulullah SAW menjawab: “Siapa Engkau?” Dia pun berkata: “Aku Al-Bahili yang pernah menemuimu setahun yang lalu.” Rasulullah SAW bertanya: “Apa yang membuatmu berubah sedangkan dulu keadaanmu baik-baik saja (segar bugar).” Ia menjawab: “Aku tidak makan kecuali pada malam hari (yakni berpuasa) semenjak berpisah denganmu, maka Rasulullah SAW bersabda: “Mengapa engkau menyiksa dirimu, berpuasalah di bulan sabar dan sehari di setiap bulan.” Lalu ia berkata: “Tambah lagi (ya Rasulallah) sesungguhnya aku masih kuat.” Rasulullah SAW berkata: “Berpuasalah 2 hari (setiap bulan).” Dia pun berkata: “Tambah lagi, ya Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW berkata: “Berpuasalah 3 hari (setiap bulan).” Ia pun berkata: “Tambah lagi, (Ya Rasulullah SAW). Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau menghendaki berpuasalah engkau di bulan-bulan haram (Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram) dan jika engkau menghendaki, maka tinggalkanlah.” Beliau mengatakan hal itu tiga kali sambil menggenggam 3 jarinya kemudian membukanya.”
Imam Nawawi menjelaskan hadits tersebut.

قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ» إنما أمره بالترك ; لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث . فأما من لم يشق عليه فصوم جميعها فضيلة . المجموع ٦/٤٣٩

Sabda Rasulullah SAW:
صم من الحرم واترك

“Berpuasalah di bulan haram kemudian tinggalkanlah”.

Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan berbuka kepada orang tersebut karena dipandang puasa terus-menerus akan memberatkannya dan menjadikan fisiknya berubah. Adapun bagi orang yang tidak merasa berat untuk melakukan puasa, maka berpuasa di bulan Rajab seutuhnya adalah sebuah keutamaan (Majmu’ Syarh Muhadzdzab Juz 6 hal. 439).

Hadits riwayat Usamah bin Zaid

قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر غفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم. رواه النسائي ٤/٢٠١

“Aku berkata kepada Rasulullah SAW, Ya Rasulullah SAW, aku tidak pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Rasulullah SAW menjawab: “Bulan Sya’ban itu adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rajab dan Ramadhan, dan bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah SWT dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201.

Imam Syaukani menjelaskan:
ظاهر قوله في حديث أسامة: إن شعبان شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان أنه يستحب صوم رجب; لأن الظاهر أن المراد أنهم يغفلون عن تعظيم شعبان بالصوم كما يعظمون رمضان ورجبا به . نيل الأوطار ٤/٢٩١

Secara tersurat yang bisa dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Usamah, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadhan.” Ini menunjukkan bahwa puasa Rajab adalah sunnah, sebab bisa difahami dengan jelas dari sabda Nabi SAW bahwa mereka lalai dari mengagungkan Sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan ramadhan dan Rajab dengan berpuasa.” (Nailul Author Juz 4 hal 291)

KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG PUASA RAJAB

Dalam menyikapi tentang puasa di bulan Rajab, pendapat ulama terbagi menjadi 2. Akan tetapi 2 pendapat ini tidak sekeras yang kita temukan di lapangan pada saat ini yaitu dengan membid’ahkan dan memfasiqkan para pelaku puasa Rajab.

Jumhur ulama dari Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan riwayat dari Imam Ahmad Bin Hanbal, mereka mengatakan bahwasanya disunnahkan puasa di bulan Rajab semuanya dan juga ada riwayat lain dari Imam Ahmad Bin Hanbal bahwasanya makruh mengkhususkan melakukan puasa sebulan penuh di bulan Rajab.
Akan tetapi di dalam Mazhab Imam Ahmad Bin Hanbal dijelaskan bahwasanya kemakruhan ini akan hilang dengan 4 hal:
Dibolong (berbuka) 1 hari di bulan Rajab, atau
Disambung dengan puasa di bulan sebelum Rajab, atau
Disambung dengan puasa di bulan setelah Rajab
Dengan puasa di hari apapun di selain bulan Rajab.

Mungkin ada yang mendengar dari salah satu stasiun radio atau selebaran yang dibagi-bagi yang mengatakan bahwasanya “Puasa Rajab adalah Bid’ah Dholalah” dengan membawa Riwayat dari Nabi SAW yang melarang puasa Rajab atau riwayat dari Sayyidina Umar Bin Khottob yang mengatakan “Kami akan memukul orang yang melakukan puasa di bulan Rajab”. Padahal riwayat tersebut adalah tidak benar dan palsu dan sungguh sangat aneh orang yang membid’ahkan puasa bulan Rajab dengan tuduhan riwayat puasa Rajab adalah hadits-haditsnya palsu akan tetapi mereka sendiri tidak sadar bahwa justru riwayat yang melarang puasa bulan Rajab adalah palsu.

Secara singkat para ulama empat madzhab tidak ada yang mengatakan puasa bulan Rajab adalah bid’ah. Bahkan mereka sepakat kalau puasa bulan Rajab adalah sunnah termasuk dalam madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.
Berikut ini uraian ulama empat tentang puasa Rajab:

PENDAPAT DARI ULAMA MAZHAB HANAFI
Disebutkan dalam Fatwa Al-Hindiyah Juz 1 Hal. 202:
)المرغوبات من الصيام أنواع ( أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ). اهـ
“Puasa yang disunnahkan itu bermacam-macam:
puasa Muharram, puasa Rajab, puasa Sya’ban, puasa ‘Asyuro’ (tgl. 10 Muharram).”

PENDAPAT DARI ULAMA MAZHAB MALIKI
Disebutkan dalam Syarh Al-Kharsyi ‘Ala Khalil Juz 2 Hal. 241:
أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم ). اهـ

“Sesungguhnya disunnahkan puasa di bulan Muharram dan puasa di bulan Rajab.”

Disebutkan dalam Hasyiah dari Syarh Al-Kharsyi ‘Ala Khalil:
بل يندب صوم بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة فالحجة ). اهـ

“Disunnahkan puasa di bulan-bulan haram yang 4, paling utamanya adalah puasa di bulan Muharram kemudian Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.”

Disebutkan dalam Muqoddimah Ibnu Abi Zaid serta Syarah Lil Fawaakih Al-Dawani Juz 2 hal. 272:
التنفل بالصوم مرغب فيه وكذلك , صوم يوم عاشوراء ورجب وشعبان ويوم عرفة والتروية وصوم يوم عرفة لغير الحاج أفضل منه للحاج. اهـ
“Melakukan puasa disunnahkan, begitu juga puasa di hari ‘Asyura’, bulan Rajab, bulan Sya’ban, hari ‘Arafah dan Tarwiyah. Sedangkan puasa di hari ‘Arafah itu lebih utama bagi orang yang tidak haji”.

Disebutkan dalam Syarh Ad-Dardir, syarah Muhtashor Kholil Juz 1 hal. 513 :
وندب صوم المحرم ورجب وشعبان وكذا بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذوالقعدة والحجة). اهـ

“Dan disunnahkan puasa Muharram, Rajab, Sya’ban begitu juga bulan-bulan haram lainnya yang 4 dan paling utamanya adalah puasa Muharram kemudian Rajab, Duzulqo’dah dan Dzulhijjah”.

Disebutkan dalam At-Taj Wa Al-Iklil Juz 3 hal. 220 :
والمحرم ورجب وشعبان لو قال والمحرم وشعبان لوافق المنصوص . نقل ابن يونس : خص الله الأشهر الحرم وفضّلها وهي : المحرم ورجب وذو القعدة وذو الحجة . اهـ

“Dan disunnahkan puasa Muharram, Rajab dan Sya’ban, andaikan beliau berkata. “Puasa Muharram dan Sya’ban disunnahkan, maka akan mencocoki nashnya”. Dinukil dari Ibnu Yunus bahwasanya “Allah SWT mengkhususkan bulan-bulan haram dan mengutamakannya, yaitu: Muharram dan Rajab, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah.”

PENDAPAT DARI ULAMA MAZHAB SYAFI’I
Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Al-Majmu’ (Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab) Juz 6 hal. 439:
قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذوالقعدة وذوالحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم. اه
Berkata ulama kami: “Dan dari puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab, sedangkan yang paling utama adalah Muharram.”

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari menyebutkan dalam Asna Al-Mathollib Juz 1 hal. 433:
(وأفضل الأشهر للصوم) بعد رمضان الأشهر ( الحرم) ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب (وأفضلها المحرم) لخبر مسلم * أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ( ثم اقيها) وظاهره استواء البقية والظاهر تقديم رجب خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم). اه

“Paling utamanya bulan-bulan untuk puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Sedangkan paling utamanya adalah Muharram berdasarkan riwayat dari Imam Muslim “Paling utamanya puasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram kemudian bulan haram yang lainnya. Secara dhahir keutamaan di antara bulan haram yang lainnya itu sama (selain Muharram). Dan secara dhahir mendahulukan keutamaan Rajab agar keluar dari Khilafnya ulama yang mengunggulkannya melebihi bulan-bulan Haram”

Imam Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fatwa-nya Juz 2 hal. 53:
… وأما استمرار هذا الفقيه على نهي الناس عن صوم رجب فهو جهل منه وجزاف على هذه لشريعة المطهرة فإن لم يرجع عن ذلك وإلا وجب على حكام الشريعة المطهرة زجره وتعزيره التعزير البليغ المانع له ولأمثاله من المجازفة في دين الله تعالى ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام إنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه : نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى. اهـ

“Orang yang melarang puasa Rajab, maka itu adalah kebodohan dan ketidak-tahuan terhadap hukum syariat. Apabila ia tidak menarik ucapannya itu, maka wajib bagi hakim atau penegak hukum untuk menghukumnya dengan hukuman yang keras yang dapat mencegahnya dan mencegah orang semisalnya yang merusak agama Allah SWT.”

Sependapat dengan ini ‘Izzuddin Abdusssalam, sesungguhnya beliau ditanya dari apa yang dinukil dari sebagian ahli hadits tentang larangan puasa Rajab dan pengharamannya, dan apakah sah orang yang bernadzar puasa Rajab sebulan penuh? Maka beliau menjawab: “Nadzar puasa Rajab itu sah dan bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun larangan puasa Rajab itu adalah pendapat orang yang bodoh akan pengambilan hukum-hukum syariat. Bagaimana bisa dilarang sedangkan para ulama yang dekat dengan syariat tidak ada yang menyebutkan tentang dimakruhkannya puasa Rajab bahkan dikatakan puasa Rajab adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT (sunnah)”.
Disebutkan dalam Mughni Al-Muhtaj Juz 2 hal. 187:
أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم , وأفضلها المحرم لخبر مسلم* أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ثم رجب , خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها ثم شعبان ). اه

“Paling utamanya bulan-bulan untuk melakukan puasa setelah Ramadhan adalan bulan-bulan haram, sedangkan paling utamanya adalah Muharram berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, “Paling utamanya puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharram” kemudian Rajab agar keluar dari Khilaf tentang keutamaan Rajab terhadap bulan-bulan haram lainnya kemudian Sya’ban”.

Disebutkan dalam Nihayah Al-Muhtaj Juz 3 hal. 211:
(اعلم أن أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم وأفضلها المحرم ثم رجب خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها وظاهره الاستواء ثم شعبان) . اهـ

“Ketahuilah sesungguhnya paling utamanya bulan-bulan untuk melakukan puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan-bulan haram. Sedangkan paling utamanya adalah Muharram kemudian Rajab agar keluar dari khilaf tentang keutamaannya atas bulan-bulan Haram yang lainnya, yang jelas keutamaannya sama dengan bulan-bulan haram yang lainnya kemudian Sya’ban”.

PENDAPAT DARI ULAMA MAZHAB HANBALI
Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Al-Mughni Juz 3 hal. 53:
فصل : ويكره إفراد رجب بالصوم . قال أحمد : وإن صامه رجل , أفطر فيه يوما أو أياما , بقدر ما لا يصومه كله … قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه , وإلا فلا يصومه متواليا , يفطر فيه ولا يشبهه برمضان ). اهـ
“Fasal: Dan dimakruhkan mengkhususkan Rajab dengan puasa. Imam Ahmad berkata. “Apabila seseorang berpuasa bulan Rajab, maka berbukalah sehari atau beberapa hari sekiranya ia tidak puasa sebulan penuh. Imam Ahmad berkata: “Barangsiapa terbiasa puasa setahun maka boleh berpuasa sebulan penuh kalau tidak biasa puasa setahun, janganlah berpuasa terus-menerus dan jika ingin puasa Rajab sebulan penuh hendaknya ia berbuka di bulan Rajab (biar pun sehari) agar tidak menyerupai Ramadhan”.

Dari keterangan tersebut sangat jelas bahwa Imam Ahmad tidak membid’ahkan puasa Rajab.

Disebutkan dalam Al-Furu’ Karya Ibn Muflih juz 3 hal. 118 :
فصل : يكره إفراد رجب بالصوم نقل ابن حنبل : يكره , ورواه عن عمر وابنه وأبي بكرة , قال أحمد : يروى فيه عن عمر أنه كان يضرب على صومه , وابن عباس قال : يصومه إلا يوما أو أياما. وتزول الكراهة بالفطر أو بصوم شهر آخر من السنة . اهـ

“Fasal : Dimakruhkan mengkhususkan Rajab dengan berpuasa berdasarkan apa yang dinukil dari Imam Ahmad Bin Hanbal dan diriwayatkan oleh Umar dan puteranya dan Abi Bakrah. Imam Ahmad berkata “Diriwayatkan dari Sayyidina Umar ra :” Sesungguhnya beliau memukul orang yang berpuasa Rajab, dan berkata Ibnu Abbas “Hendaknya berpuasa Rajab dengan berbuka sehari atau beberapa hari”. Dan kemakruhan puasa bulan Rajab akan hilang dengan berbuka (walaupun sehari) atau dengan berpuasa di bulan lain selain bulan Rajab.”

KESIMPULAN

Dari penjelasan ulama empat mazhab sangat jelas bahwa puasa bulan Rajab adalah sunnah, hanya menurut mazhab Imam Ahmad saja yang makruh. Kemakruhan puasa Rajab menurut madzhab Imam Hanbali itu pun jika dilakukan sebulan penuh. Adapun kalau berbuka satu hari saja atau disambung dengan sehari sebelumnya atau sesudahnya. Atau dengan melakukan puasa di selain bulan Rajab maka kemakruhannya akan hilang. Mereka tidak mengatakan puasa Rajab bid’ah sebagaimana yang marak akhir-akhir ini disuarakan oleh kelompok orang dengan menyebar selebaran, siaran radio atau internet.

Wallahu a’lam bish-showab.

Sumber Web : https://buyayahya.org/kontroversi-hukum-puasa-rajab-sunnah-bidah.html (JANUARY 11, 2018)

Saat Diijabahnya Doa Di Hari Jumat

Saat Diijabahnya Do'a Di Hari Jumat - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Saat Diijabahnya Do'a Di Hari Jumat

“Di hari Jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas ia memanjatkan suatu do’a pada Alloh bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Alloh akan memberi apa yang ia minta.” (HR. Bukhari)

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
9 November 2018 pukul 11.53 ·

Qoute Islam

Doa Islam