Tampilkan postingan dengan label ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulama. Tampilkan semua postingan

Keistimewaan Surat Yasin

Keistimewaan Surat Yasin

Keistimewaan Surat Yasin 

Sebagian ulama berkata :

Diantara keistimewaan surat yasin jika dibacakan dalam hal-hal yang sulit maka Allah akan memudahkannya, dan pembacaan Yasin di dekat orang yang meninggal akan menjadi sebab turunnya rahmat dan berkah dari Allah, serta memudahkan keluarnya ruh.

Imam Ahmad berkata : Para guru berkata :

"Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan bacaan Yasin tersebut"

Sumber FB : L a W a T a N

7 Oktober 2022

Ulama Su' Lebih Berbahaya Daripada Syetan

Ulama Su' Lebih Berbahaya Daripada Syetan

Ulama Su' Lebih Berbahaya Daripada Syetan

Ulama su' lebih berbahaya daripada syetan. Sebab, dengan perantara mereka, syetan bisa masuk ke dalam diri manusia untuk mencabut agama dari hati mereka.

Syaikhuna KH. A. Fuad Noerhasan

#NgajiFikih #KalamMasyayikh #Sidogiri #TipsPesantren

Sumber FB : Pondok Pesantren Sidogiri - المعهد سيداقري السلفى

https://www.facebook.com/Sidogiri

Mengapa Bukan Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah Yang Diundang?

Mengapa Bukan Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah Yang Diundang?

Mengapa Bukan Ulama' Ahlussunnah Wal Jama'ah Yang Diundang?

Viral berita Ustadz Khalid Basalamah (Salafi) diundang ngisi kajian di Markaz Kepolisian Perairan dan Udara. Dan banyak yang bertanya, mengapa tidak da'i-da'i NU atau Ahlussunnah lainnya? 

Tentu kali ini saya tidak sedang mengkritisi akidah dan pemahaman Khalid Basalamah yang banyak bermasalah. Tapi lebih ingin menyorot mengapa bukan ulama' Ahlussunnah wal Jama'ah baik dari NU atau yang lain yang diundang kesana. Saya akan mencoba menganalisis dari sudut subyektivitas saya [Kalau salah jangan dimarahi 😃]:

1. Di tubuh Ahlussunnah, khususnya NU, mungkin lebih tampak [bagi sebagian anggota polri khususnya] nuansa politiknya daripada nuansa murni dakwahnya atau lebih terlihat kerap berkonflik dan berkonfrontasi dengan ormas atau aliran lain. Sementara kelompok Salafi seperti Khalid Basalamah lebih fokus membangun konten dan polesan-polesan dakwahnya serta tidak terlalu peduli kritik-kritik yang ditujukan kepadanya. 

2. Da'i-da'i Aswaja yang menjauhi konflik politik tidak terlalu banyak yang viral heboh dan bahkan tidak terorganisir dengan baik. Mungkin mereka tenggelam dengan ikhlas dan khumul-nya. 😋

3. Harus diakui, dai-dai Aswaja yang populer di YouTube selain nama beken Gus Baha', UAS, UAH, Gus Miftah, dll (😍) hampir tidak ada. Padahal secara SDM kurang apa kita coba?! Justru video seperti milik Khalid Basalamah lebih banyak berseliweran dan lebih menarik ditonton oleh masyarakat kita, gak Salafi gak Aswaja awam. Ada apa dengan Aswaja? Hoi....!

4. Sebagaimana diatas, da'i-da'i Aswaja kurang terorganisir dengan baik. Pelatihan-pelatihan da'i setahu saya juga hampir tidak ada (atau jangan-jangan aku sing gak diundang ya hahahahaha). Bahkan sependek pengamatan saya, lembaga dakwah milih NU, LDNU pun tidak memiliki program yang mengarah kepada cetak dai-dai mumpuni yang sesuai selera masyarakat yang seneng nonton Tiktok dan Sinetron Ikatan Cinta. 🙄🙄🙄 🙏🙏🙏

5. Mungkin petinggi-petinggi Polri sudah banyak yang ikut kajian Salafi dan petinggi Polri yang Aswaja atau NU gak ada atau kurang peduli. 😭😭😭

Menurut anda bagaimana? Boleh beda pendapat dan pendapatan ya hehehehehe....

Sumber FB Ustadz : Hidayat Nur

1 Mei 2021

Beberapa komentar :

Zeid Ibn Imaduddin : Alhamdulillah.... unek2 n kegusaran alfaqier direspon sm yai,,, smoga membuka mata kita para dai Aswaja utk lebih smangat berdakwah di kalangan pejabat2 pemerintah dan kaum millenials

Abi Yansa : UAS datang suatu daerah di kab di Jateng di tolak olah klompok pemuda yg ngaku Aswaja, sedih, kasihan mereka

Juwansyah : Faktor terbesar mnurut sya itu krn memang sdh viralny ustadz2 mereka di medsos2... dan itu sdh berlngsung sangat lama... alhmdulillh disinu sy bersyukur dngn kemunculan UAS yg sama2 jg viral di medsos yg terang2an mengimbangi pengaruh mereka di masrkt awam... disusul UAH,(meski muhammdiyah tpi pengaruhny cukup mengaimbangi dai2 wahabi... 

Disusul para habaib jg yg viral di medsos sprti habib jindan, habib novel, habib seif dll... dri NU masih sdikit dan kbnykn isiny kurang diminati masyrkt milenial... 

Smg seluruh kelompok2 aswaja bisa bersatu dan tak berpecah belah sprti sekrng utk mengimbangi pengaruh mereka...

Vian Rifqi : Mungkin karena Isi Dakwah mereka, gak ribet sehingga mudah diterima di berbagai kalangan Khususnya Dai Dai mereka yang biasanya isinya lebih tentang ke Kehidupan baik beragama dan bermasyarakat

Sepertinya kan seperti Ust. Yazid Jawas kurang mendapat perhatian baik dari anak muda remaja atau dewasa

Abi Azka Ar Rifa'i : Masyarakat kota cenderung suka yg dikit2 dalil uatadziy...dan peluang itu ditangkap oleh salafi. Beda dg dai azwaja (baca Aswaja) yg cenderung banyak beretorika dan guyon..

Dai2 aswaja yg gaya dakwahnya mirip mereka juga diterima dg baik kok. Intinya menurut kulo...perlu strategi dlm berdakwah dan jgn lupa punya team utk framing..saatnya njenengan bikin team ustadziy...hehe

Ginanjar Nugraha : Abi Azka Ar Rifa'i sepakat ustadz bukan pada materi dakwah tapi lebih kepada teknis dan strategi dakwah disesuaikan secara sosiologis mad'u

Zaenal Irfan : Kan ada ust Anwar Zahid dan Das'ad Latif yi. Banyak juga viewernya di YT

Juwansyah : Zaenal Irfan ustadz anwar zahid dan das'ad latif itu snagt cocok utk kalangan emak2 dan orang2 awam kbnykn yg suka guyon... tpi tdk utk masrkt milenial apalgi orang2 kota yg kritis terpelajar dan orang2 yg bru hijrah... mereka haus akan asupan2 ilmu yg sesuai dngn quran dan hadits.. nah yg bnyk viral itu mlh dri paham sebelah...

Zaenal Irfan : Juwansyah sy pikir cuma sekedar banyak viewer di YT. Ya kalo mau bener2 ambil segmen itu cari yg gak cuma pinter ndalil, tapi yg alumni timteng juga kayak Alm prof Ali mustofa Yaqub, habib DR said Agil Munawar, Dr Ahsin Sakho dll. Butuh tim juga utk optimasi YT nya. Penampilan juga yg ala modernis macam prof Quraish Shihab jgn sarungan kayak Buya Yahya.

Ihsan Adil : Strategi dakwah penting yai,

Uah uas dll menyentuh jamaahnya dengan retorika dakwahnya dan jarang membahas hukum kecuali ditanya

Salafi seperti itu, terlebih lagi kita hidup di era digital, tinggal tengok hp 

Bukan hanya salafi saja yang mengajak kembali ke alquran dan sunnah tapi ormas besar nu dan muhammadiyah juga demikian, tapi disisi salafi lebih transparan, apalagi duitnya banyak hehehhe

Muhammad Al Rivalda : Saya paling se7 nomor 1 ustadz, orang" itu mulai menjauhi Nu gara" manuver politiknya oknum" NU yg membuat orang yg ga sepaham poltiik nya jadi takut mendekat sama ulama" NU

Abduh Raafi : Manajemen dakwah salafi sdh bagus ditunjang team work nya melek IT..kalau ada beda paham diantara sesama salafi dianggap khilafiyyah kalau beda paham diluar salafi dianggap bid'ah 😊

Ahmad Karomi : Menurut saya:

A. Sudah saatnya benar² digodok pelatihan da'i secara intens, bisa dimulai dari pesantren, kemudian dilatih oleh para mubaligh yang profesional.

B. Harus dibagi sesuai segmentasinya, ada da'i ala Tiktok, ada da'i ala artis, ada da'i ala kadarnya.

C. Harus ada yang mengelola dan memanajemen da'i, biar gak serobotan

D. Tim IT dari PC MWC harus kompak seirama mempopulerkan da'i dari daerah masing-masing.

E. Kiai Zainuddin MZ adalah contoh ideal sosok dai sejuta umat yang secara bahasa dan gesture sangat komplit.

F. Mengkader alumni pesantren (yang tertarik untuk menjadi da'i) secara proporsional. Bisa diadakan pelatihan khusus pengenalan ilmu public speaking yang joss.

Hidayat Nur : Ahmad Karomi Nah niki bagian Jenengan yang punya link ke PBNU, PWNU Jatim dan PW² yang lain, Kyai. Hehehehe....

Kalau saya da'i ala kadarnya saja. Hehehehe

Harry Nurdianto : Alhamdulillah, ada Kyai yang mau menulis otokritik begini. Saya pernah menulis begini beberapa tahun lalu, malah dianggap menyerang NU.

Pada intinya menurut saya ada di point 1 dan 4, yang ada di benak awam ketika bicara Aswaja (NU) adalah perang politik identitas, yang anti Wahabi, anti PKS dan anti-anti yang lain. Padahal kebutuhan masyarakat bukan itu, ada yang butuh sih ya yang nyebuzzer.

Fuad Jalaludin : Betul sekali pak ustad di Riau sini juga kayak gitu persis sekali,,ada apa dg Aswaja sekarang????

Abdul Qodir Baihaqi : Nderek rembug, beberapa Da'i NU yang pernah saya ikuti, tema ceramahnya itu-itu aja. 

Nasir Alhamdal : yang jelas otokritik sah sah saja tapi yang jelas...

itu semua kesan saja,tapi yg jelas dari kalangan Wahabi memang ofensif misinya ..dalam menyebarkan virusnya disemua lini...,dan banyak kalangan awam yg semangat beragama ...kalau sdah mendengar ucapan Wahabi ...bahwa .ini yg sesuai Sunnah itu yg nggak sesuai ini yg murni itu yg nggak murni...gampang banget terpaparnya

Arga Abdi Lubis : Kalau saya berpendpat yai, kajian2 salafi terutama dyoutube itu simpel2 dan jelas, mengenai kehidupan sehari2..

Tp kalau aswaja itu kebanyakan (tak semua) isi kajiannya berat2, banyak masyarakat awam ya jelas ninggalin..

Kajian salafi itu cuma berdasar hadist tok

Kalau aswaja, kalau belum nampilin ibaroh arab gundul dri kitab ulama2 klasik yg notabene, orng yg masih baca Al Qur'an tertatih2 ya jd puyeng nheliatnya, bgitu pandangan saya yai sebagai masyarakat awam...

Itu knp bnyak masyrakat awam lebih tertarik kpd kajian salafi dripd aswaja sndiri..

Salikin : Utamakan aqidah ahlussunnah drpd "bendera apapun"....kalo mau

Zulkifli Kuala : 4. Kajian² Kiyai²/ Ust² kita kurang praktis dan kekinian (up to date) kecuali UAS tentu

5. Ada beberapa teman yg menyebutkan bahwa banyak perwira polri yg sdh ikut kajian Salafy

6. Kebanyakan dr underbbow NU sibuk membangun konfrontasi bukan mengedukasi ummat...

Afwan... 🙏🏿🙏🏿

Fathur Rohman :

Solusi : 

1. Rekam dan viralkan lewat medsos semua ustadz aswaja pada saat ngisi pengajian PHBI atau pada saat ngaji di majelis ta'lim (semuanya). 

2. Koordinir panitia perekam video dan sekaligus ambil tema yang menarik

3. Koordinir orang aswaja pada saat berkomentar di dalam video tersebut 

4. Kenalkan dai aswaja ke publik

Kelemahan :

1. Kurang hapal dalil

2. Takut duluan

3. Cari aman dan gak berani ngambil resiko ditanya oleh publik

Gan Tanuwijaya : Metode kyai NU itu menurut saya kesannya bagi awam jarang yang tematis ceramahnya.

Metode ceramah salafi itu  menarik bagi awam karena simple

Misalnya

Tema : muamalah A

Dalilnya - Al-Qur'an

          - as-sunah

Tidak sesuai dengan dalil yang disampaikan bidah.

Bidah sesat, neraka.(titik)

😬 Jama'ah pulang sudah merasa dapet paket komplit.

NU Pantura : Gan Tanuwijaya kalau menurut saya, mengapa ustad2 wahabi video dakwah diyoutube view-nya rata2 ratusan ribu, karena jamaah mereka kebanyakan ngajinya di youtube, nyari ustad wahabi didesa susah .... berbeda dengan jamaah NU atau Aswaja yg laennya, masjid atau musholla tiap desa bahkan tiap RT isinya pengajian ustad/ Kyai2 NU, sangat mudah mencari pengajian Kyai2 NU di desa

Gan Tanuwijaya : NU Pantura ya tidak dipungkiri gerakan dakwah mereka memang segmentasinya ke kampus anak muda, tentunya lebih up-to-date teknologi.

Ibnu Abdullah Al Maidany : Ya gimana mau diundang polri yai, yang populer malah ceramah di gereja.

Hidayat Nur : Ibnu Abdullah Al Maidany 

Lha menurut Jenengan bagaimana? Mungkin bisa dibahas dulu hukum masuk gereja. Terus dibahas akidahnya Ustadz Kholid Basalamah.

Ibnu Abdullah Al Maidany : Wah mana ada ilmu saya yai. Apakah boleh ni ceramah untuk peresmian gereja? Terus bilang kita (penceramah dan kaum nasrani yg mendengarkan) adalah satu karena memanggil Allah dengan sebutan yang berbeda?

Feri Hendriawan : Narasi yg digunakan pemilik akun Lembaga Dakwah PBNU itu telah melakukan kesalahan yang sangat fatal mas ust.Hidayat Nur .

Fokus pada narasi nya:

"Kita adalah satu dari Dia yang kita panggil nama-Nya dengan sebutan yang berbeda".

Hal seperti ini,yg membuat Aswaja Awam menjauh dan tidak tertarik ikut kajian da'i Aswaja khususnya dari NU.

Charim Beands Zenank : aswaja sdh terlalu sering diundang. jadi kesannya biasa saja.

mungkin kali ini pihak polri ingin melihat lgsg tema ceramahnya khalid.

NU Pantura : Charim Beands Zenank padahal kholid pernah mengharamkan hormat merah putih😂

Andri Ansyah : Sedih nya yi ketika yg tampil di medsos sepeeri UAS UAH dan buya yahya bnyk yg khritik dari kalangn NU pdhl sama" aswaja mungkin krna ada perbdaan sangkut paut dgn politik 😀

Ahdiyat Darsonn : Menurut saya Faktor pembawaan dan cara menjelaskan juga berpengaruh stadz...

Ada beberapa ustadz kita yang masih condong kanan-kiri, atau seperti menyekat-nyekat ,  bahkan sperti anti terhadap sesama muslim yang beda pemahaman, sehingga menimbulkan pemikiran negatif di masyarakat awam, misalnya masalah toleransi yang kadang seperti kebablasan...

Sedangkan banyak di masyarakt awam kita itu masih banyak yang memang murni ingin ngaji/mencari ilmu agama bahkan mencari jati diri... #cmiiw

Fakhry Mar-i Fathaniy : Nomor 5 lebih dominan yai, banyak akun POLRI CINTA SUNNAH dkk yg marak muncul

Dakwah mereka ini ilmiah berkesesuaian dgn standar ilmiah modern (melampirkan dalil), jadi banyak yg kecantol

D pajak-pun jg begitu

Tp kalau aswaja krn selain dalil, standar ilmiah kita adalah pemahaman yg berkesesuaian dgn ulama dr zaman k zaman, dan mengutip ulama ini dikerdilkan oleh mereka sehingga kesan "ilmiah asli" ini mjd tidak layak sbg standar ilmiah modern yai 😅

Wallahu a'lam

Feri Hendriawan : Sekitar awal tahun 2017, sebelum saya tahu tentang penyimpangan akidah Tajsim nya Khalid Basalamah,(Saya awalnya mengira,dia da'i Muhammadiyah).

Akun Instagram saya juga pernah beberapa kali memposting videonya.

Yang berkesan dari sosoknya (termasuk keluarganya) adalah attitude (baik dirinya dan keluarganya yang sangat tampak Istiqomah menjalankan kehidupan secara Islami).

Yang berkesan dari dakwahnya adalah integritas nya sebagai da'i yang fokus mensyiarkan Islam tanpa terkait politik dan kepentingan penguasa.(Berbeda dengan NU).

Suaranya yang khas dan tegas juga mempengaruhi penikmat kajian videonya.

Terakhir sikapnya yang tegas menolak Riba perbankan konvensional dan mengharamkan rokok,itu menjadi nilai plus yang tidak dimiliki da'i Aswaja (khususnya NU yang membolehkan bunga perbankan konvensional dan merokok).

*Begitu mendapati video nya yang membahas tentang istiwa', tangan dan kaki-Nya.Seketika itu juga saya paham dimana letak kesesatan nya.😀🙏

kajian ulama

Ulama Yang Menjual Agama

Ulama Yang Menjual Agama - Qoutes Kajain Islam

Ulama Yang Menjual Agama

"Ulama hanya takut kepada Allah. Hal inilah yang membuat mereka begitu tegar dan tidak pernah gentar kepada apapun dalam menyampaikan yang benar. Maka jika engkau dapati ada yang mempermainkan hukum Allah, maka ini bukti nyata bahwa dia sebenarnya adalah uang yang sedang ingin dikenal sebagai ulama, agar mudah mencari makan dari menjual agama," -AST-

لَغَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَى أُمَّتِي ( قالها ثلاثًا ) قال : قلت : يا رسول الله ما هذا الذي غير الدجال أخوفك على أمتك ؟ قال : أَئِمَّةً مُضِلِّينَ.

“Bukan hanya Dajjal yang paling aku takutkan atas umatku.” Beliau mengulangnya tiga kali. 

Maka Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu selain Dajjal yang paling anda takutkan atas umatmu ?” Beliau menjawab : 'Para tokoh yang menyesatkan.” (HR. Ahmad)

Sumber FB : Ahmad Syahrin Thoriq

Qoute· 8 Maret 2021 pada 20.18  · 

Mencatut Nama Qur’an dan Sunnah, Bukan Pekerjaan Ulama Salaf

Mencatut Nama Qur’an dan Sunnah, Bukan Pekerjaan Ulama Salaf - Artikel Kajian Islam Tarakan
Mencatut Nama Qur'an dan Sunnah, Bukan Pekerjaan Ulama Salaf!
Ahmad Zarkasih, Lc

Kita tidak mendapati –sejak dulu- ulama salaf yang beneran salaf juga ulama madzhab, yang dalam masalah-masalah fiqih, mereka menisbatkan pendapat hasil ijtihad mereka kepada al-Qur’an dan sunnah. Dengan bahasa yang lebih ringan, kita tidak pernah mendapati mereka menuliskan dalam kitab-kitab mereka “ini pendapat yang shahih dan benar menurut al-Qur’an dan sunnah”. Tidak pernah kita dapati itu. Sama sekali tidak pernah. Yang kita dapati adalah, bahwa mereka dalam masalah-masalah fiqih yang mereka ijtihad-kan mereka menisbatkan pendapat mereka itu kepada diri mereka atau madzhab mereka.

Itu tentu bukan karena para salaf dan ulama madzhab serta imam-imam mulia mereka tidak mengambil hukum dari al-Qura’an dan sunnah. Bukan itu tentunya. Keliru jika ada yang beranggapan seperti ini. Toh para imam-imam itu beserta ulamanya, adalah orang yang memang sangat mengerti dengan dalam maksud teks syariah, baik ayat atau juga hadits. Baik itu yang manthuq atau juga yang mafhum-nya. Apa yang mereka lakukan dengan tidak menisbatkan pendapat mereka kepada al-Qur’an dan sunnah, itu bukti kedalaman kepahaman mereka terhadap teks-teks al-Quran dan sunnah.

Syariah dan Fiqih

Yang mesti kita tahu terlebih dahulu, bahwa dalam al-Qur’an dan sunnah yang merupakan 2 sumber utama dalam syariat Islam ini ada di dalamnya teks yang bersifat qath’iy (pasti), dan juga yang sifatnya Dzanniy (duga-duga). Yang Qath’iy itu adalah teks yang tidak punya makna berbilang dan sudah tidak mungkin ditafsirkan lagi, serta tidak perlu dilakukan didalamnya ijtihad. Itu yang disebut dengna istilah Nash. Seperti wajibnya shalat, haramnya berjudi, mencuri juga berzina. Kesemua itu syariah yang menghukumi.

Jadi wajibnya shalat itu bukan perkara ijtihadiy, maka tidak bisa dikatakan “shalat itu wajib menurut madzhab fulan...”, tidak bisa. Harus dikatakan bahwa “shalat itu wajib menurut syariat islam!”.

Di samping Qath’iy, ada bahkan banyak teks syariah yang sifatnya dznniy; karena memang ini yang menjadi porsi terbesar dalam teks syariah, baik itu ayat al-Qur’an atau juga Hadits nabi s.a.w.. dzanniy itu teks yang masih multi tafsir, mana tidak bisa digali hukum dari teks tersebut kalau hanya berdiri sendiri karena memang masih bias kandungannya. Yang membuat teks syariah itu menjadi dzanniy banyak sebabnya, bisa karena memang dari sisi bahasa, teks tersebut punya arti yang lebih dari satu dan kesemua punya kekuatan dari segi pemakaian.

Atau mungkin karena memang kandungannya berseinggungan atau berselisih denga teks syariah lainnya. Atau bisa juga karena sumbernya yang masih diragukan; seperti hadits Ahad. Pada intinya, teks-teks syariah yang sifatnya dzanniy ini tidak mungkin bisa difahami dan tidak bisa digali hukum dari akndungannya kecuali dengan upaya penelitian yang lebih mendalam. Itu yang dinamakan dengan ijithad.

Fiqih = Teks Dzanniy = Ijtihad

Nah, di teks-teks dzanniy inilah para imam madzhab dan ulamanya bekerja. Artinya mereka memang bekerja menggali hukum dari teks-teks yang syariah itu sendiri tidak memberikan hukum secara pasti, karena memang sifatnya yang dzanniy. Kalau dibiarkan, tentu akan ada kekosongan hukum yang jelas sangat tidak membantu bagi orang awam. Maka dari itu, mereka; para imam beserta ulama madzhab meneliti, menelaah apa yang sejatinya dimaksud oleh Allah s.w.t. dan juga Rasul-Nya s.a.w. dari ayat dan juga hadits, untuk kemudian dihasilkan dari penelitian tersebut sebuah hukum. Itu yang disebut dengan ijtihad.

Itu yang disebut perkara ijtihadiy. Lapangannya adalah teks-teks dzanniy, yang bekerja di dalamnya adalah imam dan ulama madzhab. Pekerjaan disebut ijtihad, dan hasilnya dinamakan fiqih.

Contohnya ijtihad ulama madzhab dalam hal  menghitung masa iddah wanita yang tertalak oleh suaminya; apakah 3 kali masa hadih, atau 3 kali masa suci? Disebutkan dalam ayat dengan redaksi “Quru’”; yang dalam bahasa arab, bisa berarti masa suci, bisa berarti juga masa haidh. Atau juga ijtihad ulama madzhab terkait bismillah dalam shalat sebelum membaca al-Fatihah, disebabkan karena karena memang banyak dalil yang bersinggungan. Satu riwayat mengatakan baca, riwayat lain justru tidak. ini lapangan ijtihad yang mana ulama bekerja di dalamnya untuk kita; orang awam agar mudah memahami.

Maka dalam 2 hal di atas, atau lebih luasnya dalam hal fiqih, karena memang medan kerjanya adalah teks-teks dzanniy yang butuh Ijtihad, tidak bisa seseorang –siapapun itu- mengatakan bahwa masa Iddah wanita itu 3 masa haidh menurut syariat. Tidak! yang benar itu menurut madzhab fulan. Tidak juga kita katakan, membaca bismillah dikeraskan dalam shalat itu adalah yang benar menurut syariat. Tidak bisa! Itu benar menurut ijtihadnya imam fulan atau madzhab fulan; Karena memang syariah sendiri memberi peluang untuk diadakan ijtihad di dalamnya.

Ijtihad = Hasil Otak Bukan Wahyu

Dan yang namanya ijtihad itu kebenaran tidak mutlak dan tidak ditentukan pada ijtihad siapa. Yang benar-benar tahu di ijtihad mana kebenran itu berada hanyalah Allah s.w.t.. Ulama hanya menjalankan perintah, bahwa teks yang masih bias harus dijalankan ijtihad, tentu yang melaksanakan mereka yang kompeten. Maka kalimat yang masyhur dari kalangan imam mazdhab itu adalah “qouliy shawab, yahtamilu al-khatha’. Qoulu Ghairy Khatha’, Yahtamilu shawab” = “pendapatku benar, tapi bisa jadi salah. Pendapat selainku salah, tapi bisa jadi benar”.

Karena memang yang namanya ijihad itu hasilnya bisa jadi benar, bisa jadi salah. Tapi jika memamng dilakukan oleh pihak yang kompeten dan otoritatif, kesalahanya tidak berdosa akan justru mendapat pahala. Karena memang kebenarannya tidak pasti, tidak ada ulama yang berani menisbatkan pendapatnya kepada al-Qur’an dan sunnah Nabi s.a.w.. Mungkin sampai sini bisa dipahami mengapa tidak ada ulama yang mengatakan dalam masalah fiqih “ini pendapat yang benar menurut al-Qur’an dan sunnah!”. Tidak ada!

Hukum fiqih yang dihasilkan adalah hasil kerja otaknya sendiri, yang bisa jadi salah bisa jadi benar. Dan otaknya itu terbatas, juga bukanlah patokan kebenaran dalam syariah. Meraka selalu mengatakan: “ini pendapatku, jika benar ini dari Allah. Jika salah ini dari diriku dan juga setan!. Sama sekali tidak ada dari mereka yang mematok kebenaran. Dan yang menyelisihnya salah, keliru, serta telah menyelisih syariah.

Kalau mereka menisbatkan pendapatnya itu kepada al-Quran dan sunnah, itu artinya ia menisbatkan sesuatu yang kebenarannya belum dipastikan kepada Allah s.w.t. dan Rasul s.a.w.. Itu artinya ia merasa bahwa otaknya itu adalah representasi dari apa yang diinginkan oleh Allah s.w.t dan Rasul-Nya s.a.w.. artinya, jika pendapatnya salah berarti ia telah menisbatkan kesalahan kepada Allah s.w.t. yang maha benar dan kepada Rasul s.a.w.. Dosa apa yang lebih besar dibanding menisbatkan kesalahan kepada Allah dan Rasul-Nya? Ini pelecehan kepada al-Quran dan sunnah namanya.

Allah Maha Benar Tidak Mungkin Salah

Jadi, para ulama madzhab menisbatkan pendapat ijtihadnya kepada diri mereka dan madzhab mereka sendiri tidak kepada al-Qur’an dan sunnah bukan mereka tidak berhukum dengan al-Quran dan sunnah. Tapi Khawatir kalau apa yang mereka ijtihadkan itu bukanlah sebuah kebenenaran yang Allah swt dan Rasul-Nya inginkan. Mereka hanya menjalankan tugas ijtihad, tapi tidak bertugas untuk mengaku-ngaku bahwa ijtihadnya yang paling benar. Karena itu mereka tidak mengatakan: “ini pendapat yang sesuai Kitab dan Sunnah!”.

Tapi justru dengan tegas mereka mengatakan bahwa hasil ijtihadnya itu adalah pendapatnya sendiri. Kalimat yang masyhur seperti ini: “ini adalah pendapatku, kalau ini benar maka itu dari (anugerah) Allah dan kalau salah maka itu dari aku sendiri dan dari setan. Dan Allah serta Rasul-Nya terbebas dari (ijtihad)-ku ini.”

Dan ini adalah kebiasaan ulama salaf yang benar-benar salaf yang memang diwarisi dari para sahabat Nabi s.a.w.. Ini juga terekam oleh Imam Ibn Taimiyyah dalam banyak halaman di kitab beliau Majmu’ al-Fatawa, salah satunya di Bab 10, hal. 450:

وَقَدْ قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَابْنُ مَسْعُوْدٍ وَغَيْرُهُمَا مِنَ الصَّحَابَةِ فِيْمَا يُفْتُوْنَ فِيْهِ بِاجْتِهَادِهِمْ: إِنْ يَكُنْ صَوَابًا فَمِنَ اللهِ وَإِنْ يَكُنْ خَطَأً فَهُوَ مِنِّي وَمِنَ الشَّيْطَانِ وَاللهُ وَرَسُوْلُهُ بَرِيئَانِ مِنْهُ

“dan Abu Bakr serta Ibnu Mas’ud serta sahabat lainnya telah berkata dalam setiap fatwa yang merekaijtihadkan: ini adalah pendapatku, kalau ini benar maka itu dari (anugerah) Allah dan kalau salah maka itu dari aku sendiri dan dari setan. Dan Allah serta Rasul-Nya terbebas dari (ijtihad)-ku ini.”

Jadi, tidak gampang mengatakan: “ini yang benar sesuai quran dan sunnah!”. Sebagaimana juga para sahabat mengajarkan itu. Karena bisa saja ijtihadnya itu salah, akhirnya ia menisbatkan pendapat yang salah kepada Allah dan Nabi saw. Naudzubillah.

Dan lebih jauh lagi, kalau menisbatkan pendapat pribadi kepada sunnah, itu berarti menjual nama Nabi s.a.w. agar pendapatnya ‘laku’, padahal sama sekali itu bukan Nabi yang mengatakan, nyatanya itu hasil dari otaknya yang terbatas, ingat bahwa berdusta atas nama Nabi s.a.w., hadiahnya adalah nereka.

وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“siapa yang berbohong atasku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka” (Muttafaq ‘alayh)

Jadi, masih mau mencatut nama Allah s.w.t., dan Rasul-Nya s.a.w. agar pendapat pribadi dari otak yang dangkal ini ‘laku’ di depan khalayak awam? Silahkan jika memang mampu menandingi para sahabt juga ulama-ulama madzhab.

Wallahu a’lam.

Sumber Website : https://www.rumahfiqih.com/z.php?id=19 (26 January 2016 05:24)

Bedanya Ulama Salaf Dengan Kita

Bedanya Ulama Salaf Dengan Kita - Qoutes Kajian Islam Tarakan
Bedanya  Ulama  Salaf  Dengan  Kita

Para ulama terdahulu 
bersama dengan banyaknya ketaatan 
mereka belum merasa jadi
orang baik, tapi kita
sekarang ini dengan sedikit
ketaatan merasa paling 
baik, bahkan dengan 
congkak berani
merendahkan orang lain
-@Abdullah Al-Jirani


Abdullah Al Jirani
5 Agustus ·

Qoute Islam

Doa Islam